Tampilkan postingan dengan label Daily Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Daily Life. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 April 2010

Favor Is Unfair

Seorang hamba Tuhan menyampaikan bahwa “Favor is Unfair” (Kemurahan atau Perkenanan itu Tidak Adil). Menurutnya, jika seseorang mendapat favor daripada Tuhan, maka orang lain akan iri dan mempertanyakan, mengapa dia yang mendapatkannya? Mengapa bukan saya? Apa istimewanya dia?

Mengapa Tuhan membuat perbedaan? Bukankah Tuhan itu adil dan tidak membeda-bedakan orang?

1. Kisah 10:34, 35 - Lalu mulailah Petrus berbicara, katanya: "Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang.

2. Galatia 2:6 - ….. sebab Allah tidak memandang muka ….

Di sisi lain, ternyata Tuhan juga membuat perbedaan antara orang-orang tertentu dengan orang lain.

1. Daniel 1:9
a. Maka Allah mengaruniakan kepada Daniel kasih dan sayang dari pemimpin pegawai istana itu; - TB
b. Now God had brought Daniel into favour and tender love with the prince of the eunuchs – KJV

2. Kejadian 39:4
a. maka Yusuf mendapat kasih tuannya, dan ia boleh melayani dia; kepada Yusuf diberikannya kuasa atas rumahnya dan segala miliknya diserahkannya pada kekuasaan Yusuf - TB
b. Potifar senang kepada Yusuf dan mengangkatnya menjadi pelayan pribadinya; lalu ditugaskannya Yusuf mengurus rumah tangganya dan segala miliknya – BIS
c. And Joseph found favor in his sight, and he ministered unto him: and he made him overseer over his house, and all that he had he put into his hand – ASV

3. Kejadian 39:21
a. Tetapi TUHAN menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya, dan membuat Yusuf kesayangan bagi kepala penjara itu - TB
b. Tetapi TUHAN menolong Yusuf dan terus mengasihinya, sehingga kepala penjara suka kepadanya. – BIS
c. But the LORD was with Joseph, and shewed him mercy, and gave him favour in the sight of the keeper of the prison - KJV

4. Maleakhi 3:18
a. Maka kamu akan melihat kembali perbedaan antara orang benar dan orang fasik, antara orang yang beribadah kepada Allah dan orang yang tidak beribadah kepada-Nya – TB
b. Umat-Ku akan melihat lagi perbedaan antara nasib orang baik dan orang jahat, antara orang yang berbakti kepada-Ku dan yang tidak. - BIS

Bahkan, dalam beberapa kasus, hanya doa orang-orang tertentu atau akibat orang-orang tertentu, maka Tuhan mengabulkan suatu doa.

1. Ayub 42:8
a. Oleh sebab itu, ambillah tujuh ekor lembu jantan dan tujuh ekor domba jantan dan pergilah kepada hamba-Ku Ayub, lalu persembahkanlah semuanya itu sebagai korban bakaran untuk dirimu, dan baiklah hamba-Ku Ayub meminta doa untuk kamu, karena hanya permintaannyalah yang akan Kuterima, supaya Aku tidak melakukan aniaya terhadap kamu, sebab kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub."
b. And now, take to you seven bullocks and seven rams, and go ye unto My servant Job, and ye have caused a burnt-offering to ascend for you; and Job My servant doth pray for you, for surely his face I accept, so as not to do with you folly, because ye have not spoken concerning Me rightly, like My servant Job. - YLT

2. Kejadian 20:7
a. Jadi sekarang, kembalikanlah isteri orang itu, sebab dia seorang nabi; ia akan berdoa untuk engkau, maka engkau tetap hidup; tetapi jika engkau tidak mengembalikan dia, ketahuilah, engkau pasti mati, engkau dan semua orang yang bersama-sama dengan engkau." – TB
b. Tetapi sekarang, kembalikanlah dia kepada suaminya. Suaminya seorang nabi, dan ia akan berdoa untukmu supaya engkau tidak mati. Tetapi jika engkau tidak mengembalikannya, ingat, engkau dan seluruh rakyatmu akan mati!" - BIS

3. 2 Raja-raja 19:34
a. Dan Aku akan memagari kota ini untuk menyelamatkannya, oleh karena Aku dan oleh karena Daud, hamba-Ku. – TB
b. Kota Yerusalem akan Kubela dan Kulindungi demi kehormatan-Ku sendiri dan demi perjanjian-Ku dengan hamba-Ku Daud. – BIS

Adalah sangat mungkin mendapatkan favor dan karenanya dibedakan dari orang lain dan mendapat perlakuan istimewa.

Mengapa Tuhan Membuat Perbedaan? Dari 12 murid yang dipilih, hanya tiga orang yang paling dekat dengan Yesus, yaitu Petrus, Yohanes dan Yakobus. Dan dari ketiga orang ini, Yohaneslah yang disebut sebagai murid yang dikasihi Yesus – (Yohanes 13:23).

Tuhan mengasihi semua orang, tetapi mereka yang memberi respon lebih banyak akan kasihNya akan menerima lebih banyak favor, kemurahan dan kebaikan Tuhan. Bukan karena Tuhan membeda-bedakan orang, tetapi karena mereka lebih aktif memberikan respon dan dengan sendirinya mengambil lebih banyak semua yang disediakan bagi orang percaya.

Kamis, 22 Januari 2009

Hati Yang Lembut

Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi - Bilangan 12:3

Salah satu tokoh Alkitab yang terkenal adalah Musa, yang dikatakan mempunyai hati yang sangat lembut, lebih lembut dari setiap manusia yang ada di muka bumi. Musa adalah seorang pendoa bagi bangsanya di hadapan Tuhan. Karena doa Musa, Tuhan mengubah pikiranNya. Apakah itu berarti Musa tidak pernah marah? Tidak! Tercatat di Alkitab, Musa marah beberapa kali.

Ia pernah marah sehingga memukul batu untuk mengeluarkan air sehingga akibatnya ia tidak boleh masuk tanah perjanjian (Bilangan 20:10-13; Mazmur 106:32,33). Iapun pernah sangat marah pada Korah, Datan dan Abiram.

Lalu sangat marahlah Musa dan ia berkata kepada TUHAN: "Janganlah perhatikan segala persembahan mereka. Belum pernah kuambil satu ekor keledai pun dari mereka, dan belum pernah kulakukan yang jahat kepada seseorang pun dari mereka." - Bilangan 16:15

Tapi mengapa dikatakan Musa memiliki hati yang sangat lembut? Begitu lembutnya sehingga ketika Harun dan Miryam ngomongin Musa, maka Tuhan yang marah. Tuhan yang membela Musa dan akibatnya Miryam kena kusta selama seminggu. Pernahkah anda membayangkan ada seorang hamba Tuhan yang punya hati sedemikian lembut seperti Musa?

Dalam bahasa Ibrani, kata lembut atau meek yang dipakai adalah anav. Arti kata ini adalah depressed in mind. Musa adalah seorang yang sangat "tertekan". Ia berada di tengah-tengah antara Tuhan dan bangsa Israel. Berkali-kali bangsa Israel memberontak terhadap Tuhan sehingga Tuhan marah. Beberapa kali bangsa Israel mau dimusnahkan tetapi Musa membela bangsanya di hadapan Tuhan.

Bahkan, suatu ketika Musa berkata kepada Tuhan, "Ah, bangsa ini telah berbuat dosa besar, sebab mereka telah membuat allah emas bagi mereka. Tetapi sekarang, kiranya Engkau mengampuni dosa mereka itu -- dan jika tidak, hapuskanlah kiranya namaku dari dalam kitab yang telah Kautulis." - Keluaran 32:31-32

Karena selalu berdiri di antara "dua kubu", yaitu antara Tuhan dan bangsa Israel, Musa menjadi depressed in mind. Tekanan yang diterimanya membuat hatinya menjadi lembut. Itu sebabnya Musa menjadi peka akan suara Tuhan. Baginya, Tuhan begitu nyata seperti yang dikatakan di Bilangan 12:8.

Hati yang lembut diperlukan untuk bisa mendengar dan menangkap suara Tuhan. Ketika Tuhan membuka telinga kita untuk bisa mendengar suaraNya, kadang-kadang terjadi lewat "aniaya" yang kita alami. Reaksi kita pada saat aniaya itu akan menentukan apakah telinga kita menjadi "terbuka" atau tidak.

Tuhan ALLAH telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang. Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi. - Yesaya 50:5,6

Jika kita ingin memiliki hati yang lembut, ijinkan Tuhan memproses hidup kita. Belajar tidak membela diri ketika disalahmengerti. Hal ini juga dialami Yusuf ketika ia difitnah oleh isteri Potifar dan akibatnya masuk ke dalam penjara. Ada masa ketika ia berusaha membenarkan diri dan meminta pertolongan lewat juru minuman Firaun, yang mengakibatkan dua tahun ia dilupakan (Kejadian 40:14,15, 23;41;1).

Ketika waktunya tiba, ia keluar sebagai seorang leader yang sangat mature. Ia mampu berpikir positif dan memandang bahwa memang Tuhan yang mengutus dia ke Mesir. Ia mampu berkata, "Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar" (Kejadian 50:20).

Biarlah kita belajar untuk punya hati yang lembut di hadapan Tuhan. Amin!

Kamis, 15 Januari 2009

To Know, To Love, and To Serve Him More

Lebih dari 20 tahun yang lalu ada sebuah lagu yang sering dinyanyikan di persekutuan, yang liriknya sbb:

The greatest thing in all my life is knowing You … 2 x
I want to know You more … 2 x
The greatest thing in all my life is knowing You

The greatest thing in all my life is loving You … 2 x
I want to love You more … 2 x
The greatest thing in all my life is loving You

The greatest thing in all my life is serving You … 2 x
I want to serve You more … 2 x
The greatest thing in all my life is serving You

Mengenal Tuhan, dan terus punya kerinduan untuk mengenal Dia lebih dalam lagi merupakan hal yang sangat penting. Tidak cukup kita mengenal Dia hanya sebagai Juruselamat kita, tetapi kita juga perlu mengenal Dia sebagai Gembala kita, yang menuntun hidup kita sehari-hari. Kita juga perlu mengenal Dia sebagai Allah yang menyembuhkan. Kita perlu mengenal Dia sebagai Allah yang menyediakan, sebagai Sang Damai, sebagai Jehovah Nissi, sebagai El-Shaddai, juga sebagai Bapa Yang Kekal. Pengenalan kita akan Tuhan akan mempengaruhi pertumbuhan iman kita, bahkan mempengaruhi sejauh mana kita bisa menikmati anugerah yang Dia berikan (II Petrus 1:2).

Firman Tuhan di Hosea 4:6 berkata, “Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah… (lack of knowledge- KJV)”. Jika kita tidak cukup mengenal Tuhan, walaupun kita sudah menjadi umat tebusanNya, kita bisa binasa. Dengan mudah iblis akan memperdayakan kita. Lack of knowledge atau kurang mengenal Tuhan, merupakan salah satu penyebab mengapa doa kita tidak dijawab.

“Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa…” (Yakobus 4:3). Karena tidak cukup mengenal Tuhan, kita tidak mengerti apa yang harus kita minta, apa yang tidak boleh kita minta, dan apa yang cukup kita akui sebagai bagian yang sudah diberikan Tuhan kepada kita. Akibatnya, kita tidak mengalami apa yang dijanjikan bagi orang percaya.

Kitab Daniel juga mencatat dampak dari pengenalan akan Tuhan: “… umat yang mengenal Allahnya akan tetap kuat dan akan bertindak.” (Daniel 11:32). Jika kita semakin kenal Tuhan, kita akan semakin kuat. Terjemahan KJV dari Amsal 24:5 berkata, “A wise man is strong; yea, a man of knowledge increaseth strength”. Siapakah yang disebut wise atau bijak atau berhikmat? Amsal 9:10 mengatakan “Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian”. Mengenal Tuhan membuat manusia rohani kita semakin kuat.

Di dalam Filipi 3:10, Paulus menyatakan kerinduannya, “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia…“. Tidak hanya itu, ia bahkan mendoakan jemaat di Efesus supaya “... mengenal Dia dengan benar” (1:17).

Hosea 6:6 juga berkata, “Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran”

Jadi, mengenal Tuhan merupakan hal yang sangat penting. Jika kita semakin mengenal Dia, maka cinta kasih kita kepadaNya pun akan bertambah. Hal ini berbeda dengan pengalaman sebagian orang yang setelah menikah dan semakin mengenal pasangannya justru semakin berkurang cintanya karena banyaknya kekurangan yang dulu disembunyikan pada masa pacaran (itu sebabnya perlu melibatkan Tuhan dalam memilih pasangan hidup, agar tidak salah pilih).

Mengenal Tuhan tidak seperti itu. Mengenal Tuhan semakin dalam akan membuat kita semakin mengasihi Dia, semakin jatuh cinta padaNya, dan semakin kagum akan pribadiNya yang sangat baik, sangat gentle, dan penuh kasih. Dan akhirnya, cinta kita kepadaNya akan mendorong kita untuk melayani Dia seumur hidup kita.

Ketika Tuhan Yesus berkata kepada Petrus untuk menggembalakan domba-dombaNya, terlebih dahulu Ia bertanya, “Apakah engkau mengasihi Aku?” (Yohanes 21:15-17). Jadi, apapun yang kita kerjakan saat ini, kalau kita katakan itu sebagai pelayanan kita kepada Dia, hal itu harus dilakukan karena kita mengasihi Dia. Kita bisa semakin mengasihi Dia kalau kita terus bertumbuh dalam pengenalan kita akan Tuhan. Selanjutnya, semakin lama kita melayani Dia, kita akan semakin mengenal Dia, mengenal kuasaNya, mengenal pribadiNya, yang membawa kita semakin mengasihi Dia, yang kemudian membawa kita semakin ingin melayani Dia… dst.

Itu sebabnya, kita banyak bertemu dengan banyak orang yang makin lama makin giat melayani Tuhan, bahkan tidak sedikit yang kemudian beralih profesi menjadi hamba Tuhan sepenuh waktu. Mereka sadar sekali keindahan to know Him more, to love Him more, and to serve Him more….
Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal TUHAN; Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi." - Hosea 6:3

Senin, 05 Januari 2009

Work Hard – Work Smart – Work (led) by the Spirit

Ada tiga hal yang perlu diperhatikan untuk meraih janji-janji yang Tuhan berikan di tahun 2009.

1. Work Hard


  • Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, …. - Pengkotbah 9:10a
  • Work hard at whatever you do… (Contemporary English Version)

Orang-orang sukses ditandai dengan ciri yang sama, yaitu mereka suka bekerja keras. Mereka mengisi waktu mereka dengan sebaik mungkin sehingga hampir tidak ada waktu lowong yang tersisa. Kerja keras merupakan satu kualifikasi yang dibutuhkan jika kita ingin tampil beda di antara kebanyakan orang. Thomas Alva Edison berkata, “jenius adalah 1% inspirasi dan 99% keringat”. Artinya, untuk menjadi orang yang disebut jenius, menurut Thomas Alva Edison, diperlukan 99% kerja keras. Jika anda ingin berhasil di tahun 2009, anda perlu kerja keras, anda perlu hard work. Jangan malas! Alkitab berkata “Tangan orang rajin memegang kekuasaan, tetapi kemalasan mengakibatkan kerja paksa.” (Amsal 12:24)

2. Work Smart
Tidak cukup hanya dengan work hard, kita juga perlu work smart. Orang yang bekerja dengan cerdik bisa menghemat banyak tenaga, waktu dan sumber daya lainnya. Alkitab mencatat orang-orang yang dipakai Tuhan, mereka berkata dengan cerdik, mereka bertindak dengan cerdik, berperang dengan siasat sehingga memperoleh hasil yang maksimal.


  • Lalu berkatalah Daniel dengan cerdik dan bijaksana kepada Ariokh….. (Daniel 2:14)
  • …..sebab telah dikatakan orang kepadaku, bahwa ia (Daud) sangat cerdik (I Samuel 23:22)
  • …sebab itu berperanglah dengan siasat (Amsal 20:18)

Tuhan Yesus juga berkata “hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati” (Matius 10:16). Ia juga berkata “Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang" (Lukas 16:8).



Kalau kita tidak cerdik, di tengah-tengah dunia yang penuh persaingan yang tidak sehat ini, kita akan tertipu terus. Kita perlu bertindak dengan cerdik, karena itu kita perlu memperlengkapi diri kita dengan berbagai pengetahuan yang diperlukan sesuai dengan lingkup kerja kita di market place.


Jika kita seorang salesman, kita perlu terus memperdalam people skill kita sehingga kita bisa mencapai omzet penjualan yang tinggi. Jika kita seorang yang sedang dipersiapkan untuk menjadi general manager atau country director misalnya, mungkin kita perlu memperdalam kemampuan kita berkomunikasi dengan bahasa Inggris atau bahasa lainnya. Pada prinsipnya, kita perlu belajar banyak hal sehingga kita bisa bersaing dengan sehat di dunia usaha. Alkitab mencatat Daniel, Sadrakh, Mesakh, Abednego juga “terpaksa” belajar bahasa dan tulisan orang Kasdim (Daniel 1:4).


3. Work (led) by the Spirit

  • Lagi aku melihat di bawah matahari bahwa kemenangan perlombaan bukan untuk yang cepat, dan keunggulan perjuangan bukan untuk yang kuat, juga roti bukan untuk yang berhikmat, kekayaan bukan untuk yang cerdas, dan karunia bukan untuk yang cerdik cendekia, karena waktu dan nasib dialami mereka semua. Karena manusia tidak mengetahui waktunya. Seperti ikan yang tertangkap dalam jala yang mencelakakan, dan seperti burung yang tertangkap dalam jerat, begitulah anak-anak manusia terjerat pada waktu yang malang, kalau hal itu menimpa mereka secara tiba-tiba. - Pengkotbah 9:11,12
  • Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah -- sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur. - Mazmur 127:2

Ternyata tidak cukup hanya dengan work hard dan work smart, sebab ada “waktu”dan “nasib” yang dialami semua orang. Dalam sebuah pertandingan sepeda, ada tiga sepeda yang berada paling depan, sedang berlomba pada saat putaran terakhir menjelang finish. Tiba-tiba sepeda kedua menyalip sepeda pertama yang mengakibatkan sepeda pertama, kedua, ketiga dan keempat terjatuh. Akibatnya, sepeda yang berada pada urutan kelima, yang tidak masuk hitungan, tiba-tiba muncul dan menjadi juara satu. Ada “nasib” dan “waktu” yang dialami para pengendara sepeda tersebut.



Masing-masing kita juga selalu mengalami “nasib” dan “waktu” tanpa bisa kita hindari. Nasib dan waktu adalah milik Tuhan, dan karena itu, jika kita membiarkan Tuhan yang menuntun hidup kita, maka Ia akan mengerjakan segala sesuatunya menjadi baik. Kita akan mengalami “nasib” dan “waktu” yang baik bagi kita, sesuai dengan rancangan Tuhan bagi hidup kita.
Karena itu, kita perlu tambahkan Work (led) by the Spirit, bekerja dengan tuntunan Roh Tuhan, supaya kita bisa meraih semua janji yang Tuhan berikan di tahun yang baru ini. Kita perlu menyediakan waktu untuk bersekutu dengan Tuhan, memuji dan menyembah Dia, menantikan tuntunanNya. Dan sementara kita menyembahNya, biar hati kita semakin mengasihi Dia dan dengan sendirinya Dia juga akan mengasihi kita sesuai dengan janjiNya “barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya." (Yohanes 14:21b).
Happy New Year 2009!

Senin, 04 Agustus 2008

Pelajaran Dari Ishak

1 Maka timbullah kelaparan di negeri itu. -- Ini bukan kelaparan yang pertama, yang telah terjadi dalam zaman Abraham. Sebab itu Ishak pergi ke Gerar, kepada Abimelekh, raja orang Filistin.

2 Lalu TUHAN menampakkan diri kepadanya serta berfirman: "Janganlah pergi ke Mesir, diamlah di negeri yang akan Kukatakan kepadamu.

3 Tinggallah di negeri ini sebagai orang asing, maka Aku akan menyertai engkau dan memberkati engkau, sebab kepadamulah dan kepada keturunanmu akan Kuberikan seluruh negeri ini, dan Aku akan menepati sumpah yang telah Kuikrarkan kepada Abraham, ayahmu.

4 Aku akan membuat banyak keturunanmu seperti bintang di langit; Aku akan memberikan kepada keturunanmu seluruh negeri ini, dan oleh keturunanmu semua bangsa di bumi akan mendapat berkat,

5 karena Abraham telah mendengarkan firman-Ku dan memelihara kewajibannya kepada-Ku, yaitu segala perintah, ketetapan dan hukum-Ku."

6 Jadi tinggallah Ishak di Gerar

12 Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN.

13 Dan orang itu menjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya.
14 Ia mempunyai kumpulan kambing domba dan lembu sapi serta banyak anak buah, sehingga orang Filistin itu cemburu kepadanya. - Kejadian 26:1-6, 12-14

Ada beberapa prinsip yang dapat dipelajari dari kehidupan Ishak yang menyebabkan ia sangat diberkati. Ishak menabur di tanah yang sama, mungkin dengan benih yang sama, dengan iklim yang sama, cuaca yang sama, kondisi yang sama, tetapi ia diberkati Tuhan sehingga dalam tahun yang sama ia menuai 100 kali lipat. Apa rahasianya?

1. Prinsip Anak Perjanjian
Ishak adalah anak perjanjian. Ia mewarisi janji-janji Tuhan kepada Abraham. Jika kita ingin diberkati seperti Ishak, pastikan bahwa kita termasuk anak-anak perjanjian, yaitu orang-orang yang berhak menerima janji Tuhan kepada Abraham.

"Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus. Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus. Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah." - Galatia 3:26-29

2. Prinsip Keintiman
Hal kedua yang harus kita miliki supaya menikmati berkat yang Ishak terima adalah keintiman dengan Tuhan. Ishak intim dengan Tuhan, karena itu Ia mendengar ketika Tuhan berbicara kepadanya, memberi petunjuk untuk tinggal di Gerar. Kalau kita ingin diberkati, kita harus mempunyai hubungan yang intim dengan Dia. Sediakan waktu untuk bersekutu dengan Tuhan, lewat doa, pujian, penyembahan dan renungan Firman Tuhan. Ijinkan Ia berbicara, memberikan petunjuk kepada kita lewat Firman yang kita baca dan kita dengar setiap hari.
"Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu." - Mazmur 32:8

3. Prinsip Ketaatan
Hal berikutnya yang perlu kita kembangkan adalah sikap ketaatan kepada perintahNya. Ishak tidak hanya intim dengan Tuhan, Ia juga taat untuk melakukan apa yang Tuhan perintahkan kepadanya. Keintiman dan ketaatan seperti dua sisi mata uang. Kita tidak bisa intim tanpa taat kepada tuntunanNya. Ketika Ia berbicara, kita harus melakukan apa yang Ia perintahkan, kalau tidak keintiman kita akan berkurang dan akibatnya kita tidak lagi menjadi peka akan suaraNya.
"Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya." - Yohanes 14:21

4. Prinsip Orang Asing
Berikutnya, sesuai dengan perintah Tuhan, Ishak hidup "sebagai orang asing". Artinya walaupun ia tinggal di Gerar, ia tidak hidup menurut tata cara penduduk asli yang ada di situ. Ishak tetap memelihara hubungannya dengan Tuhan. Ia tidak menajiskan dirinya dengan hal-hal yang mendukakan Tuhan. Jika kita ingin diberkati, jika kita ingin tetap mendengar suaraNya, jika kita ingin mengikuti tuntunanNya, kita tidak boleh hidup sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Tuhan. Di Alkitab ada contoh lain yang menceritakan hal ini, yaitu Daniel.
"Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya. Maka Allah mengaruniakan kepada Daniel kasih dan sayang dari pemimpin pegawai istana itu" - Daniel 1:8,9

Ketika Daniel memutuskan untuk "hidup sebagai orang asing", Tuhan memberikan favor sehingga atasannya bisa memahami ibadah pribadi Daniel di tengah-tengah Kerajaan Babel. Kalau kita memutuskan untuk hidup bagi Tuhan, yang berarti "hidup sebaai orang asing", maka kita akan menerima favor dari Tuhan sehingga kita bisa tetap berada di lingkungan pekerjaan dan usaha kita tetapi tetap bisa "hidup berbeda" dengan yang lain.

"janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu. - 2 Korintus 6:17b
5. Prinsip Menabur
Selanjutnya, Ishak menabur. Artinya Ishak bekerja. Ia tidak malas. Ia melakukan bagiannya. Ia menabur supaya ia bisa menuai. Alkitab mengajarkan "jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan." - 2 Tesalonika 3:10. Jika kita ingin diberkati, jangan malas. Lakukan bagian kita dengan setia dan konsisten.
Pengertian selanjutnya dari menabur adalah menyangkut hukum tabur tuai. Apa yang kita tabur akan kita tuai. Jika kita ingin menuai uang, kita harus menabur uang. Jika kita ingin menuai kasih, kita harus menabur kasih. Apa yang kita tabur, itu yang kita tuai. Kalau kita ingin diberkati secara materi, kita juga harus banyak memberi seperti yang Tuhan tuntun. Ukuran yang kita pakai untuk memberi juga akan dipakai untuk menerima tuaian kita.
"Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga." - 2 Korintus 9:6

"Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya." - Galatia 6:7

6. Prinsip Menuai
Prinsip keenam adalah prinsip menuai. Jika tiba waktunya, kita akan menuai. Artinya, ada saatnya kita menikmati berkat yang memang menjadi bagian kita. Nikmatilah, jangan sungkan! Beberapa orang tidak menikmati apa yang memang Tuhan sediakan semata-mata karena merasa tidak layak. Ada yang menganggap tidak perlu kaya dan berlimpah secara materi karena banyak orang miskin di sekitar kita. Padahal, kita tidak bisa menolong orang miskin kalau kita sendiri miskin dan selalu kekurangan. Abraham kaya, Ishak kaya, Yakub kaya, Yusuf kaya, Daud kaya, Salomo kaya... dan masih banyak lagi hamba-hamba Tuhan yang kaya materi tetapi juga kaya rohani.
Selama hati kita benar di hadapan Tuhan, kekayaan tidak menjauhkan kita dari Tuhan.
"Dan bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah. Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagiannya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya -- juga itu pun karunia Allah" - Pengkotbah 3:13, 5:18
7. Prinsip Aniaya
Hal terakhir yang perlu kita ingat dalam hidup ini adalah bersamaan dengan berkat yang kita terima, juga ada aniaya. Ishak dianiaya karena orang-orang Filistin cemburu kepadanya. Iia diusir dari Gerar, tetapi kemudian Abimelekh - raja Gerar - datang dan mengakui bahwa Ishak disertai Tuhan.
Lalu kata Abimelekh kepada Ishak: "Pergilah dari tengah-tengah kami sebab engkau telah menjadi jauh lebih berkuasa dari pada kami." - Kejadian 26:16

Datanglah Abimelekh dari Gerar mendapatkannya, bersama-sama dengan Ahuzat, sahabatnya, dan Pikhol, kepala pasukannya. Tetapi kata Ishak kepada mereka: "Mengapa kamu datang mendapatkan aku? Bukankah kamu benci kepadaku, dan telah menyuruh aku keluar dari tanahmu?" Jawab mereka: "Kami telah melihat sendiri, bahwa TUHAN menyertai engkau; sebab itu kami berkata: baiklah kita mengadakan sumpah setia, antara kami dan engkau; dan baiklah kami mengikat perjanjian dengan engkau, - Kejadian 26:26-28

Di Perjanjian Baru, Tuhan Yesus juga berkata, " ... sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal. - Markus 10:29,30.

Selalu ada aniaya bagi mereka yang mengikut Tuhan. Kalau kita tidak diberkati, akan ada orang yang menganiaya lewat perkataan atau lainnya. Kalau kita diberkati, juga ada orang yang akan iri dan menganiaya lewat perkataan atau lainnya. Jadi, kalau memang sudah waktunya bagi kita untuk menikmati berkat yang memang adalh bagian kita, nikmati saja....

Rabu, 23 Juli 2008

Mujizat di Kana

Jika kita membaca Yohanes 12:1-11 tentang mujizat yang dikerjakan Tuhan Yesus di Kana, ada beberapa pelajaran yang bisa kita peroleh.

1. Pada hari ketiga ada perkawinan di Kana yang di Galilea, dan ibu Yesus ada di situ;

Pelajaran 1 – Bergaul Dengan Orang Yang Lebih Mengenal Tuhan
Ibu Yesus – orang yang mengenal Yesus - ikut terlibat di acara tersebut. Jika kita ingin ada mujizat di dalam kehidupan kita, bergaullah dengan orang yang lebih mengenal Tuhan. Belajarlah dari padanya. Ibu Yesus mengenal Yesus dari sebelum ia mengandung, ketika malaikat Gabriel datang kepadanya untuk menyampaikan kabar baik bagi seluruh dunia.

2. Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu.

Pelajaran 2 – Mengundang Yesus ke Dalam Seluruh Bagian Hidup Kita
Jika kita ingin mujizat dalam keluarga kita, undanglah Yesus ke dalam rumah tangga kita. Undanglah Yesus ke dalam perusahaan tempat kita bekerja. Undanglah Yesus ke dalam bisnis yang kita kerjakan.

3. Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: "Mereka kehabisan anggur."

Pelajaran 3 – Belajar Terbuka Kepada Tuhan
Belajarlah terbuka kepada Tuhan. Katakan apa masalah kita. Jika kita mengalami kehabisan anggur, katakan kepadaNya. Jika kita kehabisan sukacita dalam keluarga kita, perusahaan kita, usaha kita, katakan dengan terus terang kepada Tuhan.

4. Kata Yesus kepadanya: "Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba."

Pelajaran 4 – Belajar Mengenal dan Menantikan Waktu Tuhan
Belajar untuk mengenal dan menantikan waktu Tuhan. Seringkali kita ingin mujizat segera terjadi dalam kehidupan kita. Tetapi Tuhan punya jadwal tersendiri yang terintegrasi dengan agendaNya secara global. Yusuf harus menunggu dua tahun lebih lama (Kejadian 40:23, 41:1) sampai skenario global menempatkan dia pada waktu yang tepat untuk menjadi perdana menteri di Mesir.

5. Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: "Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!"

Pelajaran 5 – Putuskan Untuk Taat Pada TuntunanNya
Orang yang mengenal Tuhan sangat mengerti apa yang dibutuhkan Tuhan agar mujizatNya terjadi dalam kehidupan kita, yaitu “Ketaatan”. Kita perlu memutuskan untuk taat melakukan apa yang Tuhan perintahkan sekalipun nampaknya tidak masuk akal.

6. Di situ ada enam tempayan yang disediakan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi, masing-masing isinya dua tiga buyung.

Pelajaran 6 – Menyadari Bahwa Tuhan Menggunakan Apa Yang Sudah Ada Pada Kita
Ketika Tuhan campur tangan dan membuat mujizat dalam kehidupan kita, Ia menggunakan apa yang sudah ada di dalam kehidupan kita. Karena itu, kita perlu meminta “mata yang terang” supaya bisa melihat sarana yang akan Tuhan pakai untuk membuat mujizatNya.

7. Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu: "Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air." Dan mereka pun mengisinya sampai penuh.

Pelajaran 7 – Lakukan Bagian Kita Dengan Setia
Ketika Tuhan mulai mengerjakan mujizatNya, Ia melakukannya step by step – langkah demi langkah. Selalu ada langkah pertama sebelum ada langkah-langkah selanjutnya, dan pada langkah pertama, mujizat yang diharapkan belum terlihat tanda-tandanya. Kita perlu belajar setia melakukan bagian kita sekalipun nampaknya “sepele”.

8. Lalu kata Yesus kepada mereka: "Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta." Lalu mereka pun membawanya.

Pelajaran 8 – Diperlukan Ketaatan Demi Ketaatan Sebelum MujizatNya Menjadi Nyata
Ketaatan pada langkah pertama harus dilanjutkan dengan ketaatan-ketaatan pada langkah-langkah selanjutnya. Jika kita berhenti di tengah jalan, maka mujizat yang kita harapkan tidak akan terjadi.

9. Setelah pemimpin pesta itu mengecap air, yang telah menjadi anggur itu -- dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya -- ia memanggil mempelai laki-laki,

Pelajaran 9 – Kita Tidak Bisa Menjelaskan Terjadinya Mujizat Tersebut Dengan Logika Kita
Pada waktu mujizat terjadi, orang yang tidak mengenal Tuhan tidak akan tahu atau mengerti. Daripada berusaha menjelaskan dengan akal pikiran kita, lebih baik mengakui dan memuji namaNya yang telah melakukan perbuatan ajaib di dalam kehidupan kita.

10. dan berkata kepadanya: "Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang."

Pelajaran 10 – Bersama Tuhan, Kita Bisa Menikmati Kehidupan Dengan Penuh Sukacita
Anggur - yang melambangkan sukacita - dalam pernikahan sering habis atau menjadi kurang baik, tetapi jika ada Tuhan dalam kehidupan kita, anggur yang baik – sukacita yang sejati - akan tetap ada.

11. Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya.

Pelajaran 11 – Semua MujizatNya Membawa Kita Untuk Semakin Percaya KepadaNya
Ketika kita mengalami jamahan dan mujizatNya, tidak ada hal lain lagi yang bisa kita perbuat kecuali memuliakan Dia dan semakin mempercayakan kehidupan kita ke dalam tanganNya.

Jumat, 08 Februari 2008

Tiga Jenis Makanan Rohani

Sebagaimana layaknya tubuh kita perlu makanan, maka sebagai orang percaya kerohanian kita juga perlu diberi makan. Setidaknya ada tiga jenis makanan rohani yang harus dimakan oleh orang-orang percaya agar kerohaniannya bertumbuh.

1. Firman Allah – Rhema
Tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah." (Matius 4:4)

Makanan rohani pertama yang harus dimakan adalah Firman yang keluar dari mulut Allah. Dalam bahasa aslinya kata firman yang dipakai adalah rhema, yang berarti firman yang fresh, hidup, bukan firman yang kita dengar minggu lalu atau tahun lalu, tetapi firman yang kita dengar saat ini, firman yang berbicara secara pribadi kepada kita.

Sebenarnya, inilah kunci kemenangan dalam kehidupan rohani kita, yaitu senantiasa mendapat rhema. Rhema-lah yang membuat Paulus bisa bertahan menghadapi segala macam tantangan untuk kemudian bersaksi di Roma (Kisah 23:11). Rhema-lah yang menghasilkan iman (Roma 10:17). Rhema­-lah yang mendorong kita untuk meminta dalam doa kita dan kemudian dikabulkan (Yohanes 15:7).

Bagaimana supaya kita penuh dengan rhema? Sediakan waktu untuk bersekutu dengan Tuhan. Biasakan memuji dan menyembahNya. Jagalah hubungan pribadi anda dengan Tuhan, maka Ia akan senantiasa memberikan tuntunanNya dan berbicara di hati kita.

2. Melakukan Kehendak Tuhan
Kata Yesus kepada mereka: "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.(Yohanes 4:34)
Tidak cukup kita hanya mendapat rhema. Kita perlu selalu melakukan kehendak Tuhan dalam hidup kita. Setelah kita mendapat rhema, setelah kita mendengar Dia berbicara dan menyampaikan apa yang Dia ingin untuk kita lakukan, maka selanjutnya bagian kita adalah melaksanakannya. Pada waktu kita taat, pada waktu kita melakukan apa yang Dia perintahkan, maka kekuatan rohani kita akan bertambah.

3. Menghadapi Tantangan
Hanya, janganlah memberontak kepada TUHAN, dan janganlah takut kepada bangsa negeri itu, sebab mereka akan kita telan habis. Yang melindungi mereka sudah meninggalkan mereka, sedang TUHAN menyertai kita; janganlah takut kepada mereka." - Bilangan 14:9
Makanan selanjutnya adalah tantangan atau masalah yang timbul karena melakukan kehendak Tuhan. Ada masalah-masalah yang timbul karena kesalahan atau dosa kita. Untuk hal ini, kita perlu bertobat dan minta ampun. Tetapi ada masalah atau persoalan yang muncul karena kita melakukan kehendak Tuhan. Jangan kita lari, tapi hadapi dan “telan habis” seperti yang dikatakan di Bilangan 14:9. Dalam terjemahan KJV dikatakan “they are bread for us”. Mereka cuma roti yang akan kita telan habis.
Seringkali, janji yang Tuhan berikan “mengandung masalah” yang harus dihadapi sebelum terealisasi dalam hidup kita. Karena itu, tetapkan dalam hati bahwa kita tidak akan mundur ketika menghadapi masalah saat sedang melakukan kehendak Tuhan. Jika kita setia melakukan bagian kita, maka Tuhan akan melakukan bagianNya sehingga apa yang Ia janjikan akan nyata dalam hidup kita. Tidak hanya itu, kerohanian kitapun akan semakin kuat ketika kita bersama Dia menghadapi masalah dan “menelan habis” semua tantangan yang ada di depan kita.

Senin, 04 Februari 2008

Allah Turut Bekerja Mendatangkan Kebaikan

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah - Roma 8:28

Salah satu janji yang Tuhan berikan adalah bahwa Ia turut bekerja dalam segala sesuatu - dalam segala keadaan, dalam segala situasi - dengan tujuan untuk mendatangkan kebaikan bagi kita. Dalam penerapannya, seringkali ketika kita menghadapi masalah, kita berkata “Roma 8:28”, yang berarti melalui masalah yang sedang kita hadapi, ada kebaikan yang Tuhan berikan. Bahkan, tidak jarang kita menganggap semua yang kita alami – entah baik atau buruk – kita katakan bahwa Tuhan campur tangan untuk kebaikan kita. Kita katakan Tuhan ijinkan untuk kebaikan kita. Ketika tidak lulus dalam beberapa mata kuliah kita katakan Tuhan ijinkan untuk kebaikan kita. Ketika sedang sakit, kita katakan Tuhan ijinkan itu untuk mengajar kita. Ketika sedang menghadapi musibah, kita katakan Tuhan merancangkan hal itu untuk kebaikan kita. Benarkah demikian?

Kalau kita baca dengan teliti, janji yang Tuhan berikan pada ayat tersebut mempunyai syarat. Janji tersebut tidak diberikan kepada semua orang. Ada syarat yang harus dipenuhi. Apa saja syarat tersebut?

Setidaknya ada dua syarat atau kondisi yang harus dipenuhi supaya kita bisa berkata bahwa Allah turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi kita.

o Kondisi Pertama
Janji tersebut ditujukan bagi mereka yang mengasihi Tuhan. Janji tersebut tidak diberikan kepada orang-orang yang tidak mengasihi Tuhan. Apakah anda mengasihi Tuhan? Mengasihi Tuhan merupakan keputusan, bukan suasana hati. Jika anda ingin menikmati janji yang ada dalam Roma 8:28, pastikan bahwa anda sudah memutuskan untuk mengasihi Tuhan.

o Kondisi Kedua
Janji tersebut ditujukan bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencanaNya. Salah satu wujud dari kasih kita kepadaNya adalah dengan hidup sesuai rencanaNya. Setiap orang yang beribadah kepada Dia memiliki panggilan, memiliki tugas yang sudah ditetapkanNya (Efesus 2:10). Ada orang-orang yang dipanggil, diberi tugas untuk melayani Dia sepenuh waktu (fulltimer), ada yang bekerja sambil melayani di gereja, ada yang melayani sambil bekerja atau memiliki usaha, ada juga yang dipanggil seperti Daniel untuk menjadi pendoa di tempat pekerjaannya. Melakukan panggilan dan tugas yang Ia percayakan kepada kita merupakan hal yang sangat penting. Di situlah kita akan mengalami perlindungan, provision dan anugerahNya yang melimpah.

Apakah anda mengasihi Tuhan? Apakah anda sedang mengerjakan apa yang Tuhan tugaskan bagi anda? Jika jawaban terhadap kedua pertanyaan tersebut adalah “ya”, maka anda dapat berkata bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi saya yang mengasihi Dia, yaitu bagi saya yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

Selasa, 29 Januari 2008

Tiga Jenis Badai

Ada tiga jenis badai yang pernah dialami para pengikut Tuhan. Mereka bukan orang-orang biasa, mereka bukan jemaat biasa, tetapi mereka adalah murid Tuhan, nabi, bahkan rasul yang setia. Dengan mempelajari apa yang mereka alami, setidaknya kita bisa memahami dan tahu apa yang harus dilakukan kalau kita sedang mengalami badai-badai tersebut.

1. Badai Yang Dialami Yunus – Yunus 1:1-16
Badai ini terjadi karena Yunus menolak panggilan Tuhan. Yunus menolak tugas yang Tuhan berikan sehingga ia mengalami badai. Ada satu prinsip yang bisa kita pelajari bahwa ketika kita menolak panggilan Tuhan, ketika kita tidak mengerjakan tugas yang Tuhan berikan kepada kita, maka kita bisa mengalami badai seperti yang dialami Yunus. Badai ini berasal dari Tuhan karena pemberontakan Yunus (ayat 4) dan karenanya tidak bisa “ditengking”.

Sangat menarik membaca kitab Yunus karena kita melihat seseorang yang dekat dengan Tuhan, seorang nabi yang peka dengan suara Tuhan, tetapi tidak menurut perintah Tuhan.Yohanes 14:21 berkata, “Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya." Kasih kita kepada Tuhan dinyatakan dengan tindakan kita untuk selalu menuruti perintahNya. PerintahNya bisa secara umum, tetapi juga bisa spesifik dan berbeda-beda, tergantung panggilan yang Tuhan berikan kepada kita.

Apakah anda mengalami banyak persoalan belakangan ini? Apakah anda sedang mengalami badai dalam hidup anda? Dalam bisnis anda? Dalam keluarga anda? Barangkali itu terjadi karena anda sedang lari dari “panggilan Tuhan” dalam hidup anda.

Ketika Yunus bertobat, badai itupun berhenti dan kemudian ia mendapat kesempatan kedua untuk melaksanakan perintahNya. Kalau saat ini anda sedang mengalami badai dan anda tahu bahwa itu terjadi karena anda tidak melakukan apa yang Ia perintahkan, segera bertobat. Minta ampun dan minta petunjukNya. Ia akan membuat segala sesuatu menjadi baik – Roma 8:28.

2. Badai Yang Dialami Murid-murid Yesus – Markus 4:35 - 41.
Badai ini terjadi justru ketika murid-murid ikut bersama Yesus naik ke dalam perahu, yaitu ketika mereka melaksanakan perintah Tuhan. Ada satu pelajaran di sini bahwa ketika kita ikut Tuhan, ketika kita melaksanakan perintahNya, tidak berarti kita tidak akan mengalami badai. Justru ada badai yang akan berusaha menahan kita supaya tidak melakukan apa yang Ia perintahkan. Badai ini berasal dari iblis yang berusaha menahan mereka supaya tidak tiba di seberang untuk melayani seorang yang sedang kerasukan Legion. Ketika mereka membangunkan Yesus yang kemudian segera bertindak, angin ribut itupun berhenti dan danau menjadi teduh.

Ada pelajaran lain lagi di sini, ketika seseorang sedang mengalami badai, sedang mengalami masalah yang nampaknya tidak ada habis-habisnya, belum tentu karena orang tersebut sedang “lari dari Tuhan”. Mungkin justru sebaliknya, ia sedang melaksanakan perintah Tuhan dalam hidupnya dan karenanya harus menghadapi badai dari iblis. Kita tidak berhak menghakimi, sebaliknya kita perlu mendukungnya dalam doa karena sangat mungkin ia sedang diserang habis-habisan oleh iblis.

Apa yang perlu kita lakukan kalau kita mengalami badai ini? “Bangunkan” Yesus! Ia ada bersama kita. Ingatkan Dia bahwa apa yang kita lakukan adalah mengikuti perintahNya. Ia akan bertindak, dan badai itupun akan berhenti.

3. Badai Yang Dialami Paulus – Kisah Rasul 27:9 – 44
Kalau badai yang pertama terjadi karena Yunus tidak menurut perintah Tuhan, badai yang kedua terjadi ketika murid-murid menuruti perintah Tuhan, maka badai yang ketiga – yang dialami Paulus – terjadi karena alasan yang berbeda.

Dua badai pertama terjadi karena adanya kehendak bebas yang bisa digunakan. Ketika ada perintah Tuhan, kita punya kehendak bebas untuk menurut atau tidak. Dua-duanya mengandung resiko badai. Tetapi badai yang dialami Paulus terjadi karena ia tidak punya pilihan. Paulus adalah seorang tawanan. Ia tidak punya kehendak bebas. Badai dan semua kerugian yang terjadi bukan karena kesalahannya, tetapi karena keputusan yang salah dari orang di atasnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini sering terjadi. Jika anda adalah seorang isteri, maka anda ada di bawah otoritas suami anda. Mungkin anda sudah berdoa dan tidak setuju dengan apa yang diputuskan suami anda – misalnya soal bisnis – tetapi suami anda tetap pada keyakinannya. Setelah beberapa saat baru kelihatan bahwa keputusan suami anda salah dan ada kerugian yang timbul dan anda juga harus memikul akibatnya.

Contoh lain, anda seorang karyawan dan atasan anda mengambil keputusan bisnis yang anda tahu bahwa itu salah. Anda sudah peringatkan, tetapi karena ia punya otoritas dan anda tidak, ia tetap pada pendiriannya. Setelah beberapa saat ternyata terbukti keputusan itu salah. Perusahaan mengalami kerugian dan akibatnya anda juga tidak mendapat bonus.

Apa yang harus kita lakukan jika kita ada dalam posisi ini? Tetap rendah hati, tidak memberontak, tetap mencari Tuhan dalam doa untuk mendapat jalan keluarnya seperti yang dilakukan oleh Paulus (ayat 21 – 26).

Badai apa yang sedang anda alami saat ini? Periksalah hati anda apakah anda ada di dalam jalur kehendakNya. Jika ya, teguhkanlah hatimu.... "Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah." - Roma 8:28

Senin, 28 Januari 2008

Lima Hal Penting

Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia, dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.Mazmur 37:3,4

Raja Daud mengajarkan lima hal penting dalam kehidupan. Kelima hal ini merupakan prinsip hidupnya yang mendasari keberhasilannya sebagai pemimpin yang berkenan kepada TUHAN.

1. Percayalah Kepada TUHAN.
Dari sejak masa mudanya, Daud - yang memulai karirnya sebagai seorang gembala kambing domba – sudah belajar untuk percaya kepada TUHAN. Karirnya terus menanjak sekalipun ia harus berperang menghadapi raksasa Goliat, orang-orang Filistin dan musuh-musuh lainnya. Dalam setiap keadaan, bahkan ketika ia sangat terjepit, Daud menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN. ”Dan Daud sangat terjepit, karena rakyat mengatakan hendak melempari dia dengan batu. Seluruh rakyat itu telah pedih hati, masing-masing karena anaknya laki-laki dan perempuan. Tetapi Daud menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN, Allahnya. (I Samuel 30:6).
Apakah Anda sedang mengalami kesulitan? Apakah Anda sedang terjepit saat ini? Apakah nyawa Anda terancam saat ini? Daud mengajarkan untuk tetap percaya kepada TUHAN. Kepercayaan kepada TUHAN adalah soal keputusan, bukan soal perasaan. Anda yang memutuskan untuk tetap percaya kepada TUHAN atau tidak, dan hal ini tidak tergantung pada keadaan. Marilah kita belajar untuk senantiasa percaya kepada TUHAN, apapun yang terjadi.

2. Lakukanlah Yang Baik.
Tidak cukup hanya percaya kepada TUHAN. Ada bagian yang harus Anda kerjakan. Daud mengajarkan untuk tetap melakukan apa yang baik. Sementara Anda percaya dan berharap kepada TUHAN, lakukanlah yang baik. Bekerjalah dengan baik, berkaryalah dengan baik. Apakah Anda sedang mengharapkan kesembuhan dari TUHAN? Lakukan hal yang baik untuk menunjang proses kesembuhan Anda, misalnya menyeleksi makanan yang masuk ke dalam tubuh Anda dan beristirahat dengan cukup. Apakah Anda sedang berdoa untuk pemulihan keluarga Anda? Lakukanlah yang baik bagi keluarga Anda. Sediakanlah waktu yang cukup bagi keluarga Anda, jadilah anggota keluarga yang baik. Apakah Anda berharap bisnis Anda berhasil? Disamping berdoa dan percaya kepada TUHAN, kerjakanlah bisnis Anda dengan baik dan benar. Pelajarilah cara-cara untuk lebih efektif dan efisien. Kerjakanlah yang baik!

3. Diamlah di Negeri.
Pada saat menantikan pertolongan TUHAN, seringkali Anda harus belajar ”berdiam diri” dan membiarkan TUHAN bekerja sesuai dengan caraNya. Seringkali caraNya tidak seperti cara Anda. Anda tetap perlu melakukan pekerjaan baik, tetapi Anda harus tetap berada pada ”koridor” TUHAN; Anda tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dan melakukannya dengan cara-cara yang tidak Ia kehendaki. Bagi kebanyakan orang, hal ini yang paling sulit. Kita terbiasa untuk segera bergerak dan mencari jalan pintas. Ratapan 3:26 berkata ”Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN.” Mazmur 37:4 berkata,”Nantikanlah TUHAN dan tetap ikutilah jalan-Nya, maka Ia akan mengangkat engkau untuk mewarisi negeri,”

4. Berlakulah Setia
Selanjutnya diperlukan kesetiaan. Orang yang berlaku setia dikenan TUHAN (Amsal 12:22). Kesetiaan diuji dengan waktu. Kesetiaan diuji dengan hambatan, batu sandungan, dan seringkali penderitaan jasmani. Pada waktu Ayub mengalami ujian, ia berkata ”Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas” (Ayub 23:10). Ujian merupakan proses pemurnian. Untuk lulus dalam ujian tersebut diperlukan kesetiaan. Belajar untuk tetap setia kepada TUHAN apapun yang Anda alami.

5. Bergembiralah karena TUHAN
Terakhir, bergembiralah karena TUHAN! Biasanya, kita bisa bergembira ketika mendapat berkat, ketika memperoleh kesembuhan, ketika mendapat kenaikan gaji, atau mendapat bonus. Tetapi Daud mengajarkan untuk bergembira bukan sekedar karena kita diberkati atau karena doa-doa kita dijawab, tetapi lebih dari itu, supaya kita bergembira karena TUHAN. Apakah Anda pernah bergembira karena TUHAN? Apakah Anda lebih menghargai TUHAN dibandingkan dengan berkat-berkatNya? Apakah selama ini keinginan Anda tidak pernah terkabul? Mungkin Anda jarang atau bahkan belum pernah bergembira karena TUHAN. Marilah kita belajar untuk percaya kepada TUHAN, melakukan yang baik, diam di negeri, berlaku setia, dan bergembira karena TUHAN! JanjiNya di Mazmur 37:4, "maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu”.