Tampilkan postingan dengan label Dedicated Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dedicated Life. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Januari 2012

Maria, Gembala, dan Orang Majus

Refleksi dan Pesan Natal - 25 Des 2011


Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. - Galatia 2:20 -

Kelahiran Yesus dua ribu tahun yang lalu melibatkan beberapa peran yang melalui mereka kita dapat belajar tentang apa yang Tuhan kehendaki dalam hidup kita sebagai umatNya. Mengetahui dan melakukan kehendakNya merupakan bukti nyata bahwa kita mengasihi Dia yang akan menyebabkan kita hidup dalam perkenananNya.

1. Maria - "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu". - Lukas 1:38

Maria adalah seorang perawan muda yang dipilih Tuhan sebagai "wadah' untuk lahirnya Yesus - Allah yang menjadi manusia - ke duina. Ketika malaikat Gabriel menghubunginya, Maria sudah bertunangan dengan Yusuf tetapi mereka belum hidup sebagai suami isteri. Merupakan hal yang berat bagi Maria - khususnya pada masa itu -ketika ia hamil sementara mereka belum berhubungan sebagai suami isteri. Resikonya sangat besar. Ia bisa dirajam dengan batu karena dianggap berzinah, atau setidaknya Yusuf sebagai tunangannya akan menceraikannya, tidak jadi menikahinya. Alkitab berkata bahwa "Yusuf suaminya seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam" (Lukas 1:19).

Tapi Maria memiliki sikap hati yang sangat baik. Walaupun akar kata nama Maria memiliki arti rebbelion (pemberontakan), bahkan dalam bahasa Inggris, Perancis, Italia, nama ini berarti kepahitan, sikap hatinya yang berkata "aku ini hamba Tuhan" membuat arti negatif nama tersebut dipatahkan. Ia tidak membiarkan "gelar" yang diberikan dari orang lain membentuk masa depannya, tetapi ia berkata "jadilah kehendak Tuhan dalam hidupku. Itu yang terbaik"

Tokoh Maria dalam kelahiran Yesus ke dunia mengajarkan kepada kita pentingnya memiliki hati hamba untuk melayani Tuhan. Sikap seperti itu akan mengubah kita menjadi bejana yang berserah, mudah dibentuk oleh tanganNya dan akhirnya menjadi alat yang berguna bagiNya. Mungkin kita sudah mengalami kepahitan, kesulitan dan banyak hal lainnya yang membuat hati kita menjadi keras, berontak dan tidak mau dibentuk. Tetapi jika kita berkata seperti Maria "aku ini hamba Tuhan, jadilah seperti yang Tuhan mau dalam hidupku", maka tanganNya akan membentuk kita menjadi bejana yang berharga di mataNya. Memasuki tahun 2012, tahun perkenanan Tuhan - the year of God's favor - biarlah hidup kita senantiasa dipersembahkan seperti lagu yang biasa kita nyanyikan.... Inilah yang kupunya, hati s'bagai hamba, yang mau taat dan setia padaMu Bapa. Ke manapun ku bawa, hati yang menyembah dalam roh dan kebenaran sampai s'lamanya....

2. Gembala di Padang - "Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka ..... Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.... Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu sedang berbaring di dalam palungan." - Lukas 2:8-16

Kehormatan besar diberikan kepada para gembala sehingga secara khusus Tuhan mengutus malaikatNya untuk memberitahukan kabar baik itu pertama-tama kepada mereka; bahkan sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah diperlihatkan kepada mereka. Mengapa para gembala yang mendapat kesempatan istimewa ini? Tuhan ingin menunjukkan bahwa panggilanNya ketika datang ke dalam dunia tidak hanya sebagai Juruselamat manusia, tetapi juga sebagai Gembala Agung yang menggembalakan umatNya. Selama tiga setengah tahun di muka bumi Ia mengajar, melatih dan memberi teladan kepada murid-muridNya bagaimana menjadi gembala yang baik dan kemudian mendelegasikan tugas penggembalaan tersebut kepada murid-muridNya.

Keempat Injil - Matius, Markus, Lukas, Yohanes - selalu diakhiri dengan pesan tentang tugas penggembalaan yang di dalamnya juga termasuk amanat agung untuk menyampaikan kabar baik ke seluruh dunia. Secara khusus, kepada Simon Petrus Yesus bertanya, "Apakah engkau mengasihi Aku? Gembalakanlah domba-dombaKu!"

Tokoh para gembala mengajarkan kepada kita panggilan Tuhan bagi setiap orang percaya, yaitu menggembalakan umatNya. Hal ini tidak berarti harus menjadi seorang pendeta atau gembala sidang suatu gereja atau fulltimer, tetapi berarti menggembalakan orang-orang yang ada di bawah koordinasi kita, misalnya isteri dan anak-anak kita, anak buah kita di kantor dan usaha kita, atau rekan pelayanan yang ada di bawah kepemimpinan kita. Bentuk penggembalaan tersebut tidak selalu persis seperti yang ada di gereja - khususnya bagi orang-orang di luar gereja, tetapi lebih kepada memimpin dengan nilai-nilai Kristiani yang menolong dan memberkati banyak orang.

Memasuki tahun 2012 sebagai tahun perkenanan Tuhan, Ia ingin kita menunjukkan cinta kasih kita kepadaNya lewat penggembalaan yang kita lakukan dengan benar seperti yang Firman Tuhan katakan di 1 Petrus 5:2,3 "Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri. Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu."

3. Orang Majus - "Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yehuda pada zaman Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem dan bertanya-tanya: 'Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintangNya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.'.... Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibuNya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepadaNya, yaitu emas, kemenyan dan mur." - Matius 2:1,2,11

Orang Majus mewakili mereka yang bekerja di dunia sekuler yang kemudian mencari Tuhan dengan segenap hati untuk menyembah Dia dan mempersembahkan harta mereka untuk kemuliaanNya. Orang Majus di Alkitab juga mengacu pada orang berilmu, oriental scientist, ahli jampi, dan para Kasdim yang ada pada jaman Daniel. Kemungkinan besar pengaruh Daniel sebagai kepala semua orang bijaksana pada masa itu (Daniel 2:48) membuat keturunan mereka ratusan tahun kemudian mengetahui bahwa akan ada seorang Raja yang dilahirkan di muka bumi dan bahwa mereka harus mencariNya dan kemudian sujud menyembahNya dengan membawa harta benda mereka.

Tokoh orang-orang Majus mewakili kita semua yang bergerak di marketplace, baik yang bekerja sebagai karyawan, manajer, direktur, atau pengusaha, pemilik perusahaan, atau para profesional seperti dokter, psikolog dll, untuk datang menyembahNya dengan membawa harta benda kita yang terbaik. Orang-orang Majus tersebut perlu tekad yang kuat dan usaha ekstra untuk bisa menemukan Raja di atas segala raja dan kemudian mempersembahkan yang terbaik dari harta mereka. Kehadiran mereka di Yerusalem yang menimbulkan kegemparan di seluruh kota tersebut menunjukkan bahwa mereka bukan orang-orang sembarangan. Mereka tidak hanya bertiga seperti yang biasa kita lihat dalam ilustrasi sandiwara Natal setiap tahun. Mereka datang dengan rombongan besar sehingga raja Herodespun terkejut dan perlu memanggil mereka dan berbicara dengan mereka. Mereka dikenal sebagai orang-orang pintar, orang-orang bijaksana dan orang-orang berada. Kehadiran mereka membuat raja Herodes merasa "terusik" karena mereka datang bukan untuk mencari Herodes, tetapi mencari Raja di atas segala raja.

Tahun 2012 adalah tahun perkenanan Tuhan di mana Ia akan menyatakan kemuliaanNya, juga melalui anak-anakNya yang berada di marketplace. Tuhan akan memberkati dengan berlimpah, tapi perlu diingat bahwa semuanya berasal dari Tuhan dan dipakai untuk kemuliaan namaNya. Emas, kemenyan dan mur yang dipersembahkan merupakan perbekalan yang diperlukan bagi Yusuf dan Maria untuk memelihara dan membesarkan Yesus, khususnya ketika mereka berada dalam pelarian untuk menghindari usaha pembunuhan yang dilakukan oleh Herodes. Ketika Tuhan memberkati kita di dalam usaha dan pekerjaan kita, salah satu tujuannya adalah untuk pembiayaan pekerjaan pemberitaan Injil dan pengembangan kerajaanNya di atas muka bumi. Bagi orang Majus, perlu usaha ekstra untuk bisa bertemu dengan Yesus dan mempersembahkan harta mereka. Demikian juga bagi ktia yang bekerja, perlu usaha ekstra dan kesungguhan untuk bisa menjadi saluran berkatNya, membiayai pelayanan ke seluruh dunia. Mereka yang tahu dan mengerti prinsip ini akan dengan sukacita mempersembahkan harta mereka untuk kemuliaan namaNya.

Untuk memasuki tahun perkenanan Tuhan 2012 kita perlu memiliki hati hamba untuk menggembalakan umatNya dengan menggunakan harta benda yang Tuhan percayakan kepada kita.

Senin, 16 November 2009

Pelangi Kasih - Padang Gurun

Jalan hidup tak selalu tanpa kabut yang pekat...

Namun kasih Tuhan nyata pada waktu yang tepat...

Mungkin langit tak terlihat oleh awan yang gelap...

Di atasnyalah membusur p’langi kasih yang kekal...

Habis hujan nampak pelangi bagai janji yang teguh...

Di balik duka menanti pelangi kasih Tuhanku...


Bait lagu di atas dinyanyikan oleh Louis Hutauruk lebih dari 20 tahun yang lalu. Dalam kenyataannya, memang seperti yang dikatakan dalam syair lagu tsb, ada badai, ada persoalan dan berbagai masalah yang dihadapi anak-anak Tuhan. Ketika kita sungguh-sungguh mengikut Tuhan, seringkali justru masalah semakin banyak. Kadang-kadang hal itu terjadi juga bukan karena kesalahan kita, tetapi akibat kesalahan orang lain. Bisa juga terjadi karena keadaan tertentu yang di luar kendali kita. Bila kita mau mempelajari Alkitab, ternyata semua hal tersebut juga ada tercatat di dalam firmanNya.


Padang Gurun

Setiap anak Tuhan, cepat atau lambat akan masuk ke dalam pengalaman padang gurun. Hal pertama yang ditemui oleh bangsa Israel setelah keluar dari Mesir, setelah mengalami mujizat Laut Teberau yang terbelah, adalah Padang Gurun Syur.

Musa menyuruh orang Israel berangkat dari Laut Teberau, lalu mereka pergi ke padang gurun Syur; tiga hari lamanya mereka berjalan di padang gurun itu dengan tidak mendapat air – Keluaran 15:22

Syur artinya wall atau dinding. Setelah mengalami mujizat yang sangat dahsyat yang membuat orang Israel dan Miryam menari serta menyanyikan pujian kepada Tuhan (Keluaran 15:1-21), mereka harus masuk padang gurun ”dinding” yang membuat mereka tidak bisa melihat apa-apa kecuali padang gurun. Pernahkah Anda mengalami hal ini?

Setelah pengalaman yang dahsyat, berjumpa dengan Tuhan yang membuat kita tersungkur dan menyembah Dia, justru terjadi hal yang nampaknya sangat bertolak belakang dengan apa yang dijanjikan.


Saulus mengalami hal ini. Ia berjumpa dengan Tuhan dalam perjalanannya ke Damsyik. Pengalaman ini membuat ia berubah total dan menjadi pengikut Yesus tanpa ada seorangpun yang menginjili dia. Tetapi apa yang terjadi selanjutnya? Ia buta selama tiga hari. Ia tidak bisa melihat sampai Ananias datang dan mendoakannya sehingga bisa melihat kembali, penuh dengan Roh Kudus dan kemudian dibaptis (Kisah 9:3-18).


Tuhan Yesus juga mengalami hal yang sama. Setelah dibaptis dan penuh dengan Roh Kudus, Ia justru dibawa oleh Roh ke padang gurun dan kemudian berpuasa 40 hari 40 malam dan dicobai oleh iblis.


Daud juga mengalami hal yang sama. Setelah diurapi oleh Samuel ketika masih remaja, nampaknya semua baik-baik saja sampai tiba masanya ia dikejar-kejar Saul karena iri dan mau dibunuh. Dan pengalaman ini tidak terjadi selama tiga hari atau tiga minggu atau tiga tahun. Saul berkuasa selama 40 tahun sebelum akhirnya Daud menggantikannya sebagai raja pada waktu berumur 30 tahun. Jadi ada waktu yang cukup lama – belasan tahun - bagi Daud untuk tinggal di ”padang gurun”.


Bagaimana dengan Yusuf? Bagaimana dengan Yakub? Abraham? Semua hamba-hambaNya melalui masa padang gurun untuk pembentukan karakter yang kuat dan dapat diandalkan.


Bagaimana dengan Anda? Apakah saat ini adalah masa padang gurun buat Anda? Semoga kita semua tidak lari dari pembentukan Tuhan karena setelah padang gurun, hasil yang didapat adalah power dari Tuhan yang berarti kekuatan karakter ilahi dan pengurapan untuk melakukan pekerjaanNya.


Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun. Dalam kuasa Roh kembalilah Yesus ke Galilea. Dan tersiarlah kabar tentang Dia di seluruh daerah itu. (Lukas 4:1,14)

 

Selasa, 12 Mei 2009

Perjumpaan Ketujuh - Mempersembahkan Ishak

Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: "Abraham," lalu sahutnya: "Ya, Tuhan." Firman-Nya: "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu." – Kejadian 22:1,1

Sejauh ini Abraham sudah mempersembahkan “segalanya” kepada Tuhan. Perjumpaan pertamanya dengan Tuhan menyebabkan ia harus meninggalkan Ur-Kasdim, kampung halamannya, tempat ia dibesarkan. Ia harus keluar dari lingkungannya yang adalah tempat penyembahan berhala.

”Allah yang Mahamulia telah menampakkan diri-Nya kepada bapa leluhur kita Abraham, ketika ia masih di Mesopotamia, sebelum ia menetap di Haran, dan berfirman kepadanya: Keluarlah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan pergilah ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu. Maka keluarlah ia dari negeri orang Kasdim, lalu menetap di Haran” – Kisah 7:2-4

Perjumpaan keduanya dengan Tuhan mengharuskan ia meninggalkan Haran, tempat ayahnya dikubur. Abraham harus melepaskan diri dari ikatan masa lalu dengan ayahnya yang sudah meninggal dan dikuburkan di Haran. Tidak hanya itu, Tuhan berkata: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu;” (Kejadian 12:1). Abraham harus meninggalkan rumah ayahnya yang tentunya merupakan warisan yang ditinggalkan ayahnya kepadanya. Tuhan berbicara dan berjanji cukup detil di sini.

Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat." Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya, dan Lot pun ikut bersama-sama dengan dia; Abram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran. – Kejadian 12:1 - 4

Perjumpaan Abraham yang ketiga dengan Tuhan terjadi setelah Lot dipisahkan dari Abraham. Di sini Tuhan juga berbicara cukup detil. Sebelumnya, Tuhan tidak berbicara cukup detil karena Abraham masih bersama dengan Lot. Tetapi setelah Abraham melepaskan Lot, maka Tuhan menampakkan diri dan berbicara dengan sangat detil.

Setelah Lot berpisah dari pada Abram, berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan, sebab seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya. Dan Aku akan menjadikan keturunanmu seperti debu tanah banyaknya, sehingga, jika seandainya ada yang dapat menghitung debu tanah, keturunanmu pun akan dapat dihitung juga. Bersiaplah, jalanilah negeri itu menurut panjang dan lebarnya, sebab kepadamulah akan Kuberikan negeri itu." Sesudah itu Abram memindahkan kemahnya dan menetap di dekat pohon-pohon tarbantin di Mamre, dekat Hebron, lalu didirikannyalah mezbah di situ bagi TUHAN. – Kejadian 13:14 – 18

Perjumpaan yang keempat membuat Abraham harus melepaskan Eliezer, orang yang dianggapnya akan menjadi ahli warisnya.

Abram menjawab: "Ya Tuhan ALLAH, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu." Lagi kata Abram: "Engkau tidak memberikan kepadaku keturunan, sehingga seorang hambaku nanti menjadi ahli warisku." Tetapi datanglah firman TUHAN kepadanya, demikian: "Orang ini tidak akan menjadi ahli warismu, melainkan anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu." - Kejadian 15: 2 – 4

Perjumpaan kelima mengakibatkan sunat, yang melambangkan cela Mesir yang ditanggalkan (Yosua 5:9)

Lagi firman Allah kepada Abraham: "Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjian-Ku, engkau dan keturunanmu turun-temurun. Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat; haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu. Anak yang berumur delapan hari haruslah disunat, yakni setiap laki-laki di antara kamu, turun-temurun: baik yang lahir di rumahmu, maupun yang dibeli dengan uang dari salah seorang asing, tetapi tidak termasuk keturunanmu. Orang yang lahir di rumahmu dan orang yang engkau beli dengan uang harus disunat; maka dalam dagingmulah perjanjian-Ku itu menjadi perjanjian yang kekal. Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjian-Ku." - Kejadian 17: 9 – 14

Perjumpaan keenam mengharuskan Abraham melepaskan Ismail, anak kandung hasil usaha Abraham untuk menggenapi apa yang Tuhan janjikan.

Tetapi Allah berfirman kepada Abraham: "Janganlah sebal hatimu karena hal anak dan budakmu itu; dalam segala yang dikatakan Sara kepadamu, haruslah engkau mendengarkannya, sebab yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak. Tetapi keturunan dari hambamu itu juga akan Kubuat menjadi suatu bangsa, karena ia pun anakmu." – Kejadian 21:12, 13

Dan Abraham berkata kepada Allah: "Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!" Tetapi Allah berfirman: "Tidak, melainkan isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya. Tentang Ismael, Aku telah mendengarkan permintaanmu; ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan dua belas raja, dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar. Tetapi perjanjian-Ku akan Kuadakan dengan Ishak, yang akan dilahirkan Sara bagimu tahun yang akan datang pada waktu seperti ini juga." – Kejadian 17:18 – 21

Perjumpaan ketujuh merupakan puncak dari segalanya. Setahap demi setahap Abraham belajar mempersembahkan segalanya kepada Tuhan. Mulai dari kampung halaman, rumah orang tua, ikatan dengan keluarga, orang kepercayaan, cela Mesir, Ismail, dan akhirnya ... Ishak yang merupakan anak perjanjian. Ishak adalah anak yang dijanjikanTuhan puluhan tahun sebelumnya kepada Abraham. Ishak adalah segalanya bagi Abraham. Pada saat Ishak lahir, kekuatan manusia Abraham dan Sara sudah tidak ada. Ishak adalah penggenapan janji yang Tuhan berikan melalui cara Tuhan sendiri, bukan melalui kekuatan manusia.

Ishak adalah visi atau janji yang Tuhan berikan kepada kita masing-masing. Mungkin ada orang yang mendapat janji dari Tuhan bahwa ia akan menjadi hamba Tuhan yang dipakai ke seluruh dunia dan menggembalakan banyak orang. Setelah beberapa tahun, nampaknya visi itu mulai menjadi kenyataan dan jelas sekali itu terjadi karena pekerjaan Tuhan sendiri, bukan karena usaha manusia. Tetapi kemudian Tuhan meminta untuk visi tersebut kembali dipersembahkan kepada Tuhan. Dan itu berarti kematian bagi visi tersebut.
Bagi banyak orang, hal itu akan merupakan pengorbanan yang paling menyakitkan. Bagaimana mungkin Tuhan menarik kembali apa yang pernah dijanjikanNya? Bukankah sudah banyak yang harus dilepaskan demi tergenapinya visi tersebut? Bukankah sudah terlalu banyak harga yang dibayar dan proses yang harus dilalui sampai visi tersebut mulai terwujud? Bagaimana mungkin sekarang visi tersebut harus dipersembahkan kembali kepada Tuhan? Apakah Tuhan tidak melihat betapa jauhnya kita sudah berjalan?

Bisa dimengerti kalau untuk terwujudnya suatu visi – apalagi visi dari Tuhan – ada banyak yang harus dibayar dan proses yang harus dilalui. Bukankah itu yang dikatakan Tuhan Yesus?

”...sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya....., (Markus 10:29)

Tetapi bagaimana mungkin kita harus melepaskan visi yang memang Tuhan berikan kepada kita? Rasanya mustahil. Tetapi itulah yang dialami Abraham. Ia mempersembahkan Ishak, yang adalah janji Tuhan, visi dari Tuhan dan yang juga merupakan masa depannya. Ishak adalah segalanya bagi Abraham,... tetapi itu yang diminta Tuhan untuk dipersembahkan.

Apakah yang menjadi ”Ishak” anda? Pekerjaan anda, usaha anda, dreams anda, atau mungkin gereja anda? Atau pelayanan anda? Atau comfort zone anda? Abraham mempersembahkan segalanya, termasuk juga visi, janji yang Tuhan berikan kepadanya. Setelah itu, Ishak yang sudah dipersembahkan menjadi “hidup kembali”. Abraham menunjukkan bahwa Tuhan adalah di atas segala-galanya di dalam kehidupannya, juga di atas visi atau janji yang pernah Tuhan berikan kepadanya. Dan kemudian, tidak tanggung-tanggung Tuhan bersumpah demi diriNya sendiri untuk memberkati Abraham berlimpah-limpah.

kata-Nya: "Aku bersumpah demi diri-Ku sendiri -- demikianlah firman TUHAN --: Karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku, maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya. Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firman-Ku." – Kejadian 22:16-18

Untuk selanjutnya, Tuhan menyebut Abraham sebagai sahabatNya. Bukan hanya hambaNya atau nabiNya, tetapi juga sahabatNya.

Bukankah Engkau Allah kami yang menghalau penduduk tanah ini dari depan umat-Mu Israel, dan memberikannya kepada keturunan Abraham, sahabat-Mu itu, untuk selama-lamanya? – II Tawarikh 20:7

Sejauh mana kita mau berjalan bersama Tuhan? Apakah sebatas ”hamba Tuhan”, ataukah kita mau terus meningkatkannya menjadi sahabatNya?

Selasa, 07 April 2009

Melepaskan Ismail

Pada waktu itu Sara melihat, bahwa anak yang dilahirkan Hagar, perempuan Mesir itu bagi Abraham, sedang main (mocking, KJV) dengan Ishak, anaknya sendiri. Berkatalah Sara kepada Abraham: "Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak." Hal ini sangat menyebalkan Abraham oleh karena anaknya itu. Tetapi Allah berfirman kepada Abraham: "Janganlah sebal hatimu karena hal anak dan budakmu itu; dalam segala yang dikatakan Sara kepadamu, haruslah engkau mendengarkannya, sebab yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak. Tetapi keturunan dari hambamu itu juga akan Kubuat menjadi suatu bangsa, karena ia pun anakmu." Keesokan harinya pagi-pagi Abraham mengambil roti serta sekirbat air dan memberikannya kepada Hagar. Ia meletakkan itu beserta anaknya di atas bahu Hagar, kemudian disuruhnyalah perempuan itu pergi. Maka pergilah Hagar dan mengembara di padang gurun Bersyeba – Kejadian 21:9 – 14

Bukankah ada tertulis, bahwa Abraham mempunyai dua anak, seorang dari perempuan yang menjadi hambanya dan seorang dari perempuan yang merdeka? Tetapi anak dari perempuan yang menjadi hambanya itu diperanakkan menurut daging dan anak dari perempuan yang merdeka itu oleh karena janji. Tetapi seperti dahulu, dia, yang diperanakkan menurut daging, menganiaya yang diperanakkan menurut Roh, demikian juga sekarang ini. Tetapi apa kata nas Kitab Suci? "Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba perempuan itu tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anak perempuan merdeka itu. – Galatia 4:22,23, 29, 30

Perjumpaan berikutnya antara Abraham dengan Tuhan menyebabkan Ismail harus diusir. Ismail adalah lambang kekuatan manusia untuk berusaha menggenapkan janji Tuhan. Ketika kita semakin mengenal Tuhan, kita akan semakin sadar bahwa ”Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” (Roma 11:36)

Ketika Tuhan memberikan janjiNya kepada kita, Ia ingin agar kita bergantung kepadaNya untuk realisasinya. Dalam kenyataannya, seringkali kita tidak sabar menantikan janjiNya sehingga lahirlah Ismail dalam kehidupan kita yang merupakan usaha manusia kita untuk ”menolong Tuhan”.

Barangkali Tuhan pernah berjanji bahwa kita akan menjadi hambaNya untuk memberitakan namaNya sampai ke ujung dunia. Ketika kita tidak sabar menantikan penggenapan janjiNya tersebut, kita mulai berusaha mempromosikan diri kita dengan berbagai cara agar kita bisa menjadi seperti yang Ia janjikan. Atau Tuhan pernah berjanji bahwa kita akan menjadi seorang yang sangat kaya seperti Ayub. Lalu karena kita tidak sabar, kita pakai berbagai cara agar kita menjadi kaya.

Abraham juga mengalami hal yang sama. Tuhan sudah berjanji bahwa ia akan punya anak kandung yang nantinya akan menjadi ahli warisnya.

Tetapi datanglah firman TUHAN kepadanya, demikian: "Orang ini tidak akan menjadi ahli warismu, melainkan anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu." - Kejadian 15:4

Tetapi kemudian ia tidak sabar sehingga oleh anjuran isterinya, ia berusaha ”menolong Tuhan” supaya ia punya anak kandung.

Berkatalah Sarai kepada Abram: "Engkau tahu, TUHAN tidak memberi aku melahirkan anak. Karena itu baiklah hampiri hambaku itu; mungkin oleh dialah aku dapat memperoleh seorang anak." Dan Abram mendengarkan perkataan Sarai. Jadi Sarai, isteri Abram itu, mengambil Hagar, hambanya, orang Mesir itu, -- yakni ketika Abram telah sepuluh tahun tinggal di tanah Kanaan --, lalu memberikannya kepada Abram, suaminya, untuk menjadi isterinya – Kejadian 16:2,3

Ketika Abraham melakukan hal ini dan kemudian lahirlah Ismail, umurnya sudah 86 tahun. Dan setelah itu, tidak pernah ada Firman Tuhan kepada Abraham sampai ia berumur 99 tahun.

Lalu Hagar melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abram dan Abram menamai anak yang dilahirkan Hagar itu Ismael. Abram berumur delapan puluh enam tahun, ketika Hagar melahirkan Ismael baginya. – Kejadian 15:15, 16

Ketika Abram berumur sembilan puluh sembilan tahun, maka TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman kepadanya: "Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela. – Kejadian 17:1

Ketika Tuhan berbicara lagi kepada Abraham setelah 13 tahun, maka hal pertama yang Ia katakan adalah: ”Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela.” Artinya, Tuhan mau berkata, ”Aku Mahakuasa sehingga tidak perlu ditolong untuk mewujudkan apa yang telah Ku janjikan kepadamu. Jangan pakai caramu untuk membantuKu, itu adalah cela Mesir.”

Ada suatu pelajaran menarik di sini. Ketika kita berusaha mewujudkan janji Tuhan kepada kita dengan cara kita sendiri, maka kita kehilangan keintiman dengan Dia. Tiba-tiba kita tidak mendengar lagi Dia berbicara. Sebelumnya, begitu banyak rhema, pewahyuan yang kita terima. Tiba-tiba, setelah kita pakai cara kita untuk ”menolong Tuhan”, Dia tidak berbicara lagi. Abraham harus membayar mahal sekali, yaitu hilangnya komunikasi dengan Tuhan selama 13 tahun.

Pernahkah anda mengalami hal tersebut? Mungkin anda masih melayani Tuhan, masih memimpin pujian, masih berkotbah, menyampaikan Firman Tuhan, masih berdoa semalaman, tetapi jauh di kedalaman anda tahu bahwa Ia tidak berbicara sejelas dulu lagi. Anda kehilangan keintiman yang selama ini begitu membuat anda bergairah untuk melayani Dia.

Ketika akhirnya Tuhan berbicara kepada Abraham lagi, Ia meminta supaya Ismail disingkirkan. Tuhan tetap memberikati Ismail, tetapi perjanjianNya hanya berlaku bagi Ishak yang lahir bukan karena usaha Abraham.

Tentang Ismael, Aku telah mendengarkan permintaanmu; ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan dua belas raja, dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar. Tetapi perjanjian-Ku akan Kuadakan dengan Ishak, yang akan dilahirkan Sara bagimu tahun yang akan datang pada waktu seperti ini juga. – Kejadian 17:20,21

Seringkali kita puas dengan melayani Tuhan sesuai dengan cara kita. Kita punya talenta dan kita gunakan itu untuk melayani Tuhan dengan cara kita. Tuhan tetap bisa memberkatinya, tetapi jika kita sungguh-sungguh ingin sesuatu yang sangat memuaskan hatiNya, kita harus belajar mengijinkan Tuhan menggunakan talenta kita seperti yang Ia mau. Hal ini sesuai dengan apa yang Ia sampaikan kepada Musa tentang orang-orang yang diberi skill, tetapi harus digunakan tepat menurut yang diperintahkan TUHAN.

Demikianlah harus bekerja Bezaleel dan Aholiab, dan setiap orang yang ahli, yang telah dikaruniai TUHAN keahlian dan pengertian, sehingga ia tahu melakukan segala macam pekerjaan untuk mendirikan tempat kudus, tepat menurut yang diperintahkan TUHAN." – Keluaran 36:1

Biarlah semakin banyak ”Ishak” yang dilahirkan dalam pelayanan yang Tuhan percayakan kepada kita masing-masing. Amin!

Selasa, 17 Maret 2009

Perjumpaan Kelima - Sunat

Ketika Abram berumur sembilan puluh sembilan tahun, maka TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman kepadanya: "Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela. …Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat; haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu. Anak yang berumur delapan hari haruslah disunat, yakni setiap laki-laki di antara kamu, turun-temurun: baik yang lahir di rumahmu, maupun yang dibeli dengan uang dari salah seorang asing, tetapi tidak termasuk keturunanmu. Orang yang lahir di rumahmu dan orang yang engkau beli dengan uang harus disunat; maka dalam dagingmulah perjanjian-Ku itu menjadi perjanjian yang kekal. Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjian-Ku." – Kejadian 17:1,10-14

Setelah seluruh bangsa itu selesai disunat, maka tinggallah mereka di tempatnya masing-masing di perkemahan itu, sampai mereka sembuh. Dan berfirmanlah TUHAN kepada Yosua: "Hari ini telah Kuhapuskan cela Mesir itu dari padamu." Itulah sebabnya nama tempat itu disebut Gilgal sampai sekarang. - Yosua 5:8,9

Perjumpaan Abraham dengan Tuhan yang kelima kalinya juga membuat Abraham harus melepaskan sesuatu. Tidak hanya namanya berubah dari Abram menjadi Abraham, tetapi juga setiap laki-laki yang bersama-sama dengannya harus disunat. Sunat adalah lambang cela Mesir yang ditanggalkan. Ketika Abraham keluar dari Mesir, ia membawa banyak budak laki-laki dan perempuan dan di antaranya juga ada Hagar.

Firaun menyambut Abram dengan baik-baik, karena ia mengingini perempuan itu, dan Abram mendapat kambing domba, lembu sapi, keledai jantan, budak laki-laki dan perempuan, keledai betina dan unta. - Kejadian 12:16

Hagar inilah yang selanjutnya melahirkan Ismael sebagai cara Abraham dan isterinya untuk mewujudkan janji Tuhan kepada mereka.

Adapun Sarai, isteri Abram itu, tidak beranak. Ia mempunyai seorang hamba perempuan, orang Mesir, Hagar namanya. Berkatalah Sarai kepada Abram: "Engkau tahu, TUHAN tidak memberi aku melahirkan anak. Karena itu baiklah hampiri hambaku itu; mungkin oleh dialah aku dapat memperoleh seorang anak." Dan Abram mendengarkan perkataan Sarai. Jadi Sarai, isteri Abram itu, mengambil Hagar, hambanya, orang Mesir itu, -- yakni ketika Abram telah sepuluh tahun tinggal di tanah Kanaan --, lalu memberikannya kepada Abram, suaminya, untuk menjadi isterinya. – Kejadian 16:1-3

Ketika akhirnya Hagar melahirkan Ismael pada saat Abraham berumur 86 tahun, Tuhan selanjutnya tidak pernah berbicara kepada Abraham sampai ia berumur 99 tahun.

Lalu Hagar melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abram dan Abram menamai anak yang dilahirkan Hagar itu Ismael. Abram berumur delapan puluh enam tahun, ketika Hagar melahirkan Ismael baginya. – Kejadian 16:15, 16

Ada selang waktu 13 tahun Tuhan tidak berbicara dengan Abraham. Selama itu, tidak ada perjumpaan Abraham dengan Tuhan. Ketika akhirnya Abraham berjumpa dengan Tuhan, maka ia harus disunat sebagai lambang cela Mesir yang ditanggalkan. Kekuatan Abraham yang telah dipakai untuk menghasilkan Ismael harus dibersihkan dari cela Mesir. Sunat adalah lambang kekuatan alamiah kita, talenta kita, kepandaian kita yang harus ditaklukkan pada kedaulatan Tuhan. Tuhan mau memakai talenta kita, kepandaian kita, kemampuan kita, tetapi semuanya harus dalam tuntunan Dia.

Abraham telah berusaha untuk mewujudkan janji Tuhan kepadanya dengan cara menikah dengan Hagar dan menghasilkan Ismael yang adalah anak kandungnya. Tetapi janji Tuhan hanya boleh diwujudkan dengan cara Tuhan. Akibatnya, perjumpaan berikutnya antara Abraham dengan Tuhan menyebabkan Abraham harus melepaskan kekuatan alamiahnya untuk tunduk pada kedaulatan Tuhan.

Dalam hidup kita, kerinduan kita untuk menyenangkan Tuhan dan mewujudkan janji-janjiNya bagi kita merupakan hal yang mulia. Tetapi untuk itupun kita perlu mengizinkan Tuhan memakai caraNya sendiri untuk menggenapi apa yang Ia janjikan. Kalau kita pakai cara kita, maka hasilnya adalah Ismael. Kalau kita mengizinkan Dia melakukannya bagi kita, maka hasilnya adalah Ishak yang adalah anak perjanjian.

Kamis, 05 Maret 2009

Melepaskan Eliezer

Janganlah ia menghadap hadirat TUHAN dengan tangan hampa, - Ulangan 16:16

Kemudian datanglah firman TUHAN kepada Abram dalam suatu penglihatan: "Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar." Abram menjawab: "Ya Tuhan ALLAH, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu." Lagi kata Abram: "Engkau tidak memberikan kepadaku keturunan, sehingga seorang hambaku nanti menjadi ahli warisku." Tetapi datanglah firman TUHAN kepadanya, demikian: "Orang ini tidak akan menjadi ahli warismu, melainkan anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu." – Kejadian 15:1–4


Setiap perjumpaan dengan Tuhan membutuhkan sesuatu untuk dipersembahkan. Abraham mengalami hal ini. Perjumpaan pertama menyebabkan Abraham harus melepaskan Ur- Kasdim. Perjumpaan kedua menyebabkan ia harus meninggalkan Haran dan kuburan ayahnya. Perjumpaan ketiga terjadi karena Abraham melepaskan Lot yang yang bertahun-tahun ikut dengannya. Ada sesuatu yang harus dilepaskan.

Kini, pada perjumpaan keempat, ada juga yang harus dilepaskan, yaitu Eliezer, hamba kepercayaannya. Rupanya, setelah bertahun-tahun menunggu janji Tuhan dan Sara tidak hamil juga, maka Abraham mulai membuat plan B, yaitu menyiapkan Eliezer untuk menjadi ahli warisnya. Barangkali sebelumnya ia berharap pada Lot, keponakannya sendiri untuk menjadi ahli warisnya. Kini, ketika semua anggota keluarganya sudah tidak ada lagi, ia berharap pada Eliezer untuk mewarisi harta bendanya. Tetapi perjumpaannya dengan Tuhan menyebabkan ia juga harus melepaskan harapannya pada Eliezer.

Pernahkah anda sadari bahwa ketika kita mengikut Tuhan, kita akan dibawa dari satu penyerahan kepada penyerahan lainnya? Kita memang akan berjalan from glory to glory (II Korintus 3:18), tetapi bersamaan dengan itu kita juga melepaskan sesuatu yang Tuhan minta. Apa yang biasanya kita andalkan akan ”dicopot” satu demi satu sehingga pada akhirnya mata kita benar-benar hanya tertuju kepada Dia. Pada akhirnya kita akan sadar bahwa kita tidak bisa ”membantu Tuhan” untuk mewujudkan apa yang telah Ia janjikan kepada kita.

Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! – Roma 11:36

Rabu, 25 Februari 2009

Perjumpaan Ketiga - Berpisah dengan Lot

Maka berkatalah Abram kepada Lot: "Janganlah kiranya ada perkelahian antara aku dan engkau, dan antara para gembalaku dan para gembalamu, sebab kita ini kerabat. Bukankah seluruh negeri ini terbuka untuk engkau? Baiklah pisahkan dirimu dari padaku; jika engkau ke kiri, maka aku ke kanan, jika engkau ke kanan, maka aku ke kiri." Lalu Lot melayangkan pandangnya dan dilihatnyalah, bahwa seluruh Lembah Yordan banyak airnya, seperti taman TUHAN, seperti tanah Mesir, sampai ke Zoar. -- Hal itu terjadi sebelum TUHAN memusnahkan Sodom dan Gomora. -- Sebab itu Lot memilih baginya seluruh Lembah Yordan itu, lalu ia berangkat ke sebelah timur dan mereka berpisah. Abram menetap di tanah Kanaan, tetapi Lot menetap di kota-kota Lembah Yordan dan berkemah di dekat Sodom. Adapun orang Sodom sangat jahat dan berdosa terhadap TUHAN. - Kejadian 13:8-13

Setelah Lot berpisah dari pada Abram, berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan, sebab seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya. Dan Aku akan menjadikan keturunanmu seperti debu tanah banyaknya, sehingga, jika seandainya ada yang dapat menghitung debu tanah, keturunanmu pun akan dapat dihitung juga. Bersiaplah, jalanilah negeri itu menurut panjang dan lebarnya, sebab kepadamulah akan Kuberikan negeri itu – Kejadian 13:14-17


Perjumpaan Abraham (waktu itu namanya masih Abram) yang ketiga dengan Tuhan terjadi setelah Abraham berpisah dengan Lot. Sebenarnya, sudah sejak awal Tuhan berfirman kepada Abraham untuk keluar dari Ur Kasdim dan dari sanak saudaranya. Abraham masih membawa ayahnya yang kemudian meninggal di Haran. Abraham juga masih membawa Lot ketika keluar dari Haran. Selama itu, tuntunan Tuhan tidak terlalu jelas sebab Abraham hanya taat sebagian. Lot masih ikut dengannya. Mungkin memang karena tidak ada pilihan lain dan juga merupakan tanggung jawab Abraham untuk membawa keponakannya.

Tetapi pada akhirnya “keadaan” memaksa mereka untuk berpisah, dan itu merupakan korban yang harus dilepaskan Abraham untuk perjumpaannya yang ketiga dengan Tuhan. Kalau pada perjumpaan pertama Abraham harus melepaskan Ur Kasdim, pada perjumpaan kedua Abraham harus melepaskan ayahnya dan meninggalkan Haran, maka perjumpaan ketiga terjadi karena Abraham melepaskan Lot.

Perjumpaan dengan Tuhan membuat kita melepaskan sesuatu. Tuhan tidak bisa memakai Abraham sepenuhnya sebelum ia taat sepenuhnya. Jika kita menyadari prinsip ini, akan lebih mudah buat kita untuk mengikuti rencanaNya step by step.

Ketika Abraham sudah berpisah dengan Lot, maka Tuhan berbicara sangat detil dan cukup panjang dibandingkan dengan ketika pertama kali Ia berbicara pada perjumpaan pertama dan perjumpaan kedua.


Bagaimana dengan anda? Apakah Tuhan cukup detil berbicara dengan anda? Adakah sesuatu yang belum sepenuhnya anda lepaskan walaupun Ia sudah pernah memintanya? Jika kita belajar taat dengan sepenuh hati, maka rencanaNya juga tidak tertunda-tunda di dalam hidup kita.

Selasa, 17 Februari 2009

Keluar dari Haran

…tetapi janganlah orang menghadap ke hadirat-Ku dengan tangan hampa. – Keluaran 23:15

Setiap perjumpaan dengan Tuhan membutuhkan sesuatu untuk diberikan, sesuatu untuk dilepaskan, seperti yang Dia minta. Perjumpaan pertama Abraham dengan Tuhan menyebabkan ia bersama ayahnya dan keponakannya harus melepaskan Ur-Kasdim, meninggalkan Mesopotamia dan kemudian berhenti di Haran. Setelah ayahnya meninggal, kembali Tuhan menampakkan diri dan kali ini ada juga yang harus dilepaskan Abraham ketika berjumpa dengan Tuhan.

Maka keluarlah ia dari negeri orang Kasdim, lalu menetap di Haran. Dan setelah ayahnya meninggal, Allah menyuruh dia pindah dari situ ke tanah ini, tempat kamu diam sekarang; - Kisah Rasul 7 :4

Lalu Terah membawa Abram, anaknya, serta cucunya, Lot, yaitu anak Haran, dan Sarai, menantunya, isteri Abram, anaknya; ia berangkat bersama-sama dengan mereka dari Ur-Kasdim untuk pergi ke tanah Kanaan, lalu sampailah mereka ke Haran, dan menetap di sana. Umur Terah ada dua ratus lima tahun; lalu ia mati di Haran. Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat." Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya, dan Lot pun ikut bersama-sama dengan dia; Abram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran. – Kej 11 :31-12:4

Kalau perjumpaan pertama menyebabkan Abraham harus meninggalkan kampung halamannya, maka perjumpaan kedua menyebabkan Abraham harus meninggalkan ayahnya yang sudah meninggal di Haran.

Panggilan Tuhan kepada Abraham ketika masih di Ur Kasdim sebenarnya cukup spesifk, yaitu keluar dari negerinya dan dari sanak keluarganya. Abaraham memang taat, hanya tidak sepenuhnya. Ia taat untuk keluar dari negerinya, tetapi keluarga besarnya tetap ikut dengan dia. Ayahnya ikut dengan dia, Lot juga ikut dengan dia. Akibatnya, tidak ada tuntunan Tuhan lebih spesifik. Bahkan, di Kitab Kejadian dikatakan bahwa Terah yang membawa Abraham. Yang mendapat visi adalah Abraham, tetapi yang mengambil alih pimpinan adalah Terah, ayahnya.

Nama Terah sendiri artinya delay atau penundaan. Ketika Abraham taat sebagian, maka ada penundaah atas rencana Tuhan dalam hidupnya. Tuhan membiarkan Abraham tinggal di Haran selama beberapa lama sampai ayahnya meninggal, baru kemudian Ia menampakkan diri lagi kepada Abraham. Kali ini, Abraham harus meninggalkan ayahnya yang sudah meninggal itu dan pergi keluar dari Haran.

Ketika Tuhan hendak memakai seseorang, maka tidak hanya lingkungan luar - yang menghambat pertumbuhan rohani – yang harus ditinggalkan. Dalam kasus Abraham, bahkan ikatan dengan ayahnya pun harus diputuskan. Tidak berarti kalau kita hendak melayani Tuhan maka kita harus meninggalkan keluarga besar kita karena kasusnya mungkin berbeda. Tapi yang jelas, perjumpaan dengan Tuhan itu menyebabkan ada sesuatu yang harus dilepaskan yang mungkin tanpa kita sadari menghambat pertumbuhan rohani atau rencana Tuhan dalam hidup kita. Kalau kita taat, maka Tuhan akan mengembalikan apa yang telah lepaskan itu dengan caraNya sendiri.

Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku – Matius 10:37

Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Kerajaan Allah meninggalkan rumahnya, isterinya atau saudaranya, orang tuanya atau anak-anaknya, akan menerima kembali lipat ganda pada masa ini juga, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal”. – Lukas 18:29 – 30

Kamis, 12 Februari 2009

Meninggalkan Ur-Kasdim

…tetapi janganlah orang menghadap ke hadirat-Ku dengan tangan hampa. – Keluaran 23:15

Lalu Terah membawa Abram, anaknya, serta cucunya, Lot, yaitu anak Haran, dan Sarai, menantunya, isteri Abram, anaknya; ia berangkat bersama-sama dengan mereka dari Ur-Kasdim untuk pergi ke tanah Kanaan, lalu sampailah mereka ke Haran, dan menetap di sana – Kejadian 11:31

Jawab Stefanus: "Hai saudara-saudara dan bapa-bapa, dengarkanlah! Allah yang Mahamulia telah menampakkan diri-Nya kepada bapa leluhur kita Abraham, ketika ia masih di Mesopotamia, sebelum ia menetap di Haran, dan berfirman kepadanya: Keluarlah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan pergilah ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu. Maka keluarlah ia dari negeri orang Kasdim, lalu menetap di Haran – Kisah Rasul 7:2 – 4

Setiap perjumpaan dengan Tuhan membutuhkan sesuatu yang harus dilepaskan, yang harus dibawa kepadaNya sebab firmanNya berkata, “Janganlah orang menghadap ke hadiratKu dengan tangan hampa." Biasanya kita mengartikan ini dengan persembahan uang atau kolekte atau persembahan pujian atau ucapan syukur dari mulut kita. Tetapi hal ini juga bisa berarti sesuatu yang harus kita persembahkan atau kita lepaskan ketika Tuhan memintanya.

Perjumpaan pertama Abaraham dengan Tuhan terjadi ketika ia masih tinggal di Mesopotamia, Ur-Kasdim. Perjumpaan pertama ini membuat Abraham harus meninggalkan kampung halamannya. Ia harus melepaskan Ur-Kasdim yang mungkin juga merupakan tempat kelahirannya.

Ur Kasdim, Mesopotamia adalah daerah tempat berhala. Ketika Tuhan mau memakai Abraham, maka korban pertama yang harus dilepaskan Abraham adalah kampung halamannya. Jika Abraham tidak mau keluar dari Ur Kasdim, maka Tuhan tidak bisa memakai dia.

Ketika Tuhan mau memakai kita, maka biasanya hal pertama yang Ia ingin agar kita lepaskan adalah lingkungan kita yang mungkin akan menghambat pertumbuhan rohani kita. Itu adalah Ur-Kasdim kita yang harus kita tinggalkan. Alkitab berkata, pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik (I Kor 15:33).

Ketika seseorang berjumpa dengan Tuhan untuk pertama kalinya, ketika ia lahir baru, maka tiba-tiba lingkungan pergaulannya tidak lagi menjadi tempat yang menarik hatinya. Bahkan, teman-temannya mulai menganggapnya aneh dan kemudian menolaknya. Ia akan dianggap ekstrim, terlalu religius, sok alim, dan sebagainya. Pada saat itu, ia harus memilih, apakah akan tetap bergaul dengan lingkungan lamanya, apakah akan tetap “berada di Ur-Kasdim” atau mengikut Tuhan untuk kemudian dibawa ke lingkungan baru yang akan mendukung pertumbuhan rohaninya.

Bagaimana dengan anda? Pernahkah anda berjumpa denganNya? Adakah sesuatu yang Ia minta untuk anda lepaskan? Apakah anda tetap berada di lingkungan lama yang tidak menunjang pertumbuhan rohani anda? Apakah anda tetap “berada di Ur-Kasdim”? Jika anda ingin terus bertumbuh secara rohani, maka anda harus mau melepaskan apa yang Ia minta. Dan dapat dipastikan bahwa yang Ia minta adalah sesuatu yang akan mendatangkan kebaikan bagi kita.

Selasa, 10 Februari 2009

Perjumpaan Dengan Tuhan

Tiga kali setahun setiap orang laki-laki di antaramu harus menghadap hadirat TUHAN, Allahmu, ke tempat yang akan dipilih-Nya, yakni pada hari raya Roti Tidak Beragi, pada hari raya Tujuh Minggu dan pada hari raya Pondok Daun. Janganlah ia menghadap hadirat TUHAN dengan tangan hampa, - Ulangan 16:16

Ada satu prinsip yang tercatat di Alkitab, “Janganlah ia menghadap hadirat TUHAN dengan tangan hampa”

Sesungguhnya, setiap perjumpaan dengan Tuhan membuat kita melepaskan sesuatu. Kita memang mendapatkan sesuatu dari padaNya, tetapi bersamaan dengan itu kita juga melepaskan sesuatu. Seorang hamba Tuhan senior bahkan berkata, bahwa jika kita bertemu dengan Tuhan dan tidak ada sesuatu yang kita lepaskan, maka sesungguhnya kita belum berjumpa dengan Tuhan.

Ketika Zakeus bertemu dengan Tuhan, setengah dari miliknya ia lepaskan untuk dibagikan kepada orang-orang miskin .

Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat." – Lukas 9:8

Ketika Petrus bertemu dengan Tuhan, ia mengalami mujizat, menerima dua perahu penuh dengan ikan. Tetapi kemudian ia dan teman-temannya meninggalkan segala sesuatu untuk mengikut Yesus.

Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus. - Lukas 5:11

Dalam kehidupan Abraham, yang sebelumnya bernama Abram, hal ini juga terjadi. Setiap perjumpaan Abraham dengan Tuhan, ada sesuatu yang dilepaskan Abraham. Ada sesuatu yang harus diberikan, sebab firmanNya mengajarkan kepada kita untuk tidak menghadap hadiratNya dengan tangan hampa.

Semakin cepat kita menyadari hal ini, semakin baik kita dalam pertumbuhan rohani kita. Jika sudah sekian lama kita tidak bertumbuh secara rohani, mungkin tanpa sadar kita juga sudah lama tidak berjumpa dengan Dia. Kita tidak berjumpa dengan Dia karena ada sesuatu yang tidak kita lepaskan ketika kita bertemu dengan Dia sebelumnya. Kita masih berdoa, kita masih melayani, kita masih berkotbah, kita masih memuji dan menyembah Dia, kita masih mendoakan orang sakit, kita masih menggembalakan jemaat yang Tuhan percayakan, tetapi kita tidak berjumpa dengan Dia.

Pernahkah anda mengalaminya? Anda sibuk dalam pelayanan tetapi semuanya hanya mekanis. Anda giat tetapi anda tidak merasakan gairah yang menyala-nyala dalam melayani Dia. Semuanya hanya tugas, hanya rutinitas. Mungkin sudah lama anda tidak berjumpa dengan Dia. Mungkin ada sesuatu yang belum anda persembahkan kepada Dia. Mungkin ada sesuatu yang Dia minta tetapi masih tetap anda tahan. Mungkin ada sesuatu yang belum anda lepaskan ketika berjumpa dengan Dia sebelumnya.

Bagi beberapa orang, itu bisa berarti hobi, tabiat buruk, lingkungan kerja yang tidak mendukung, dosa, atau bahkan kekuatiran akan masa depan. Bagi orang lain, mungkin itu berarti cita-cita, impian, pekerjaan, pacar, atau bahkan pelayanan. Sudah bukan hal yang aneh kalau pelayananpun bisa menduduki posisi yang lebih tinggi dari Tuhan di dalam kehidupan kita. Akibatnya, bisa saja hal itu yang harus kita lepaskan ketika kita berjumpa dengan Dia.

Perjumpaan dengan Tuhan merupakan tonggak-tonggak pertumbuhan rohani kita dengan Dia. Jika kita setia memberikan dan melepaskan apa yang Dia minta setiap kali kita berjumpa dengan Dia, maka pertumbuhan rohani kita akan terus berjalan dari kemuliaan kepada kemuliaan (from glory to glory).

Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar (from glory to glory) – II Korintus 3:18

Senin, 02 Februari 2009

Unfulfilled Dreams - Belajar dari Daud

Tokoh selanjutnya yang sangat terkenal, dekat dengan Tuhan, suka memuji dan menyembah Tuhan, tetapi tidak mendapatkan semua yang dia inginkan adalah Daud.

Sebenarnya Daud mempunyai reputasi yang luar biasa: “Berkenan di hati Tuhan”. Di Alkitab, hanya tiga orang yang mendapat sertifkat “Berkenan Kepada Tuhan”. Yang pertama adalah Henokh.

Karena iman Henokh terangkat, supaya ia tidak mengalami kematian, dan ia tidak ditemukan, karena Allah telah mengangkatnya. Sebab sebelum ia terangkat, ia memperoleh kesaksian, bahwa ia berkenan kepada Allah. – Ibrani 11:5

Yang kedua adalah Daud, seperti yang tercatat di Kisah Rasul 13:22.

Setelah Saul disingkirkan, Allah mengangkat Daud menjadi raja mereka. Tentang Daud Allah telah menyatakan: Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku. – Kisah 13:22

Yang ketiga adalah Tuhan Yesus.

lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan." – Matius 3:17

Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia." – Matius 17:5

Lalu terdengarlah suara dari sorga: "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan." – Markus 1:11

dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara dari langit: "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan." – Lukas 3:22

Kami menyaksikan, bagaimana Ia menerima kehormatan dan kemuliaan dari Allah Bapa, ketika datang kepada-Nya suara dari Yang Mahamulia, yang mengatakan: "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan." – II Petrus 1:17

Daud berkenan kepada Tuhan. Ia memiliki hati yang penurut. Walaupun demikian, ia pernah jatuh dalam dosa, bahkan tidak hanya sekali. Dampak dari kesalahannya cukup fatal. Untuk menutupi kesalahannya, ia merencanakan pembunuhan atas Uria yang adalah suami dari Batsyeba. Uria sendiri adalah salah seorang prajuritnya yang setia (II Samuel 11:11). Kesalahan berikutnya adalah ketika Daud menghitung pasukan Israel yang berdampak matinya tujuh puluh ribu rakyatnya (II Samuel 24:10-15).

Dari sini kita dapat melihat bahwa Daud sangat tidak sempurna. Kesalahan yang dibuat Daud berakibat kepada nyawa orang lain yang jumlahnya tidak sedikit. Kita tidak membaca kesalahan Henokh yang dikatakan hidup bergaul dengan Tuhan (Kejadian 5:24). Alkitab juga menyatakan bahwa Tuhan Yesus juga dicobai, tetapi tidak berbuat dosa.

Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. – Ibrani 4:15

Jadi, dari ketiga orang yang dikatakan “berkenan kepada Tuhan”, Daud yang paling tidak sempurna. Namun demikian, mengapa ia tetap disebut sebagai orang yang berkenan kepada Tuhan? Bahkan, Tuhan Yesus sendiri berkali-kali dikatakan di Alkitab sebagai anak Daud.

Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham. – Matius 1:1

Ketika didengarnya, bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru: "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!" – Markus 10:47

Ada belasan ayat yang menyatakan hal tersebut. Apa istimewanya Daud? Bukankah ia sangat tidak sempurna? Mengapa ia tetap dihormati dan dikenang sebagai orang yang berkenan kepada Tuhan?

Ada salah satu sikap Daud yang Tuhan sukai, yaitu ia seorang yang penurut. Ia sadar ia pernah salah, tetapi kemudian bertobat. Selanjutnya, sikap hati penurut ini tetap ia jaga. Akibatnya, ketika ada permohonannya yang tidak dikabulkan Tuhan, ia tidak protes. Ia sadar bahwa ia sudah menerima anugerah pengampunan dari Tuhan. Ia sudah jadi raja yang diangkat oleh Tuhan. Ia menjadi pemazmur yang disenangi, ia diangkat tinggi, ia diurapi oleh Tuhan.

"Tutur kata Daud bin Isai dan tutur kata orang yang diangkat tinggi, orang yang diurapi Allah Yakub, pemazmur yang disenangi di Israel…” - II Samuel 23:1

Sebagai seorang raja yang sudah berhasil, apa yang Daud inginkan berikutnya?

Ketika raja telah menetap di rumahnya dan TUHAN telah mengaruniakan keamanan kepadanya terhadap semua musuhnya di sekeliling, berkatalah raja kepada nabi Natan: "Lihatlah, aku ini diam dalam rumah dari kayu aras, padahal tabut Allah diam di bawah tenda." – II Samuel 7:1,2

Daud ingin membangun bait Allah. Ia ingin menyenangkan Tuhan dengan membangun bait Allah. Bukankah itu keinginan yang mulia? Dan bukankah itu yang banyak terjadi di antara kita? Setelah kita sangat diberkati secara materi, berhasil dan sukses di usaha kita, apa yang kita inginkan selanjutnya?

Tetapi pada malam itu juga datanglah firman TUHAN kepada Natan, demikian: "Pergilah, katakanlah kepada hamba-Ku Daud: Beginilah firman TUHAN: Masakan engkau yang mendirikan rumah bagi-Ku untuk Kudiami – II Samuel 7:4,5

Apabila umurmu sudah genap dan engkau telah mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangmu, maka Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, anak kandungmu, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya. Dialah yang akan mendirikan rumah bagi nama-Ku dan Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya untuk selama-lamanya. – II Samuel 7:12,13

Respons Daud selanjutnya adalah ia nurut pada kehendak Tuhan. Itu sebabnya Tuhan mengasihi dia karena ia punya hati yang penurut. Dalam bahasa Inggris dikatakan Daud adalah a man after My own heart, who will do all My will (Kisah 13:22 NKJV). Terjemahan bebasnya kira-kira “orang yang selalu mengikuti hati Tuhan”.

Apakah anda punya hati seperti itu? Apakah anda selalu bertanya kepada Tuhan untuk setiap hal yang ingin anda lakukan? Apakah anda bertanya dulu kepada Tuhan kalau anda ingin membangun bait Allah? Apakah anda bertanya dulu kepada Dia kalau anda ingin membuka pelayanan baru yang akan memuliakan namaNya? Ataukah anda tidak bertanya lagi karena yakin Tuhan pasti senang?

Biarlah kita belajar dari Daud, yang senantiasa nurut Tuhan sekalipun keinginannya yang sangat mulia untuk mendirikan bait Allah tidak dikabulkan Tuhan. Ia tetap dikenang sebagai seorang yang berkenan kepada Tuhan, “a man after My own heart, who will do all My will”









Sabtu, 24 Januari 2009

Belajar dari Musa

Ada beberapa tokoh istimewa di Alkitab yang tidak mencapai semua yang sebenarnya mereka inginkan walaupun mereka sangat mengasihi Tuhan. Mereka punya dream, mereka punya keinginan yang mulia, tetapi tidak dikabulkan Tuhan. Mereka dekat dengan Tuhan, mereka bergaul intim dengan Tuhan, tetapi ada keinginan mereka yang tidak dikabulkan Tuhan.

Tokoh pertama adalah Musa. Kita tahu betapa ia sangat dekat dengan Tuhan. Ia punya hati yang sangat lembut. Ia berbicara berhadapan muka dengan Tuhan. Ia bertemu dengan Tuhan di puncak gunung selama 40 hari 40 malam. Ketika kakaknya, Miryam dan Harun ngomongin dia, Tuhan yang marah kepada mereka. Tuhan yang membela Musa.

Bilangan 12
1 Miryam serta Harun mengatai Musa berkenaan dengan perempuan Kush yang diambilnya, sebab memang ia telah mengambil seorang perempuan Kush.
2 Kata mereka: "Sungguhkah TUHAN berfirman dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?" Dan kedengaranlah hal itu kepada TUHAN.
3 Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi.
4 Lalu berfirmanlah TUHAN dengan tiba-tiba kepada Musa, Harun dan Miryam: "Keluarlah kamu bertiga ke Kemah Pertemuan." Maka keluarlah mereka bertiga.
5 Lalu turunlah TUHAN dalam tiang awan, dan berdiri di pintu kemah itu, lalu memanggil Harun dan Miryam; maka tampillah mereka keduanya.
6 Lalu berfirmanlah Ia: "Dengarlah firman-Ku ini. Jika di antara kamu ada seorang nabi, maka Aku, TUHAN menyatakan diri-Ku kepadanya dalam penglihatan, Aku berbicara dengan dia dalam mimpi.
7 Bukan demikian hamba-Ku Musa, seorang yang setia dalam segenap rumah-Ku.
8 Berhadap-hadapan Aku berbicara dengan dia, terus terang, bukan dengan teka-teki, dan ia memandang rupa TUHAN. Mengapakah kamu tidak takut mengatai hamba-Ku Musa?"
9 Sebab itu bangkitlah murka TUHAN terhadap mereka, lalu pergilah Ia.
10 Dan ketika awan telah naik dari atas kemah, maka tampaklah Miryam kena kusta, putih seperti salju; ketika Harun berpaling kepada Miryam, maka dilihatnya, bahwa dia kena kusta!
11 Lalu kata Harun kepada Musa: "Ah tuanku, janganlah kiranya timpakan kepada kami dosa ini, yang kami perbuat dalam kebodohan kami.
12 Janganlah kiranya dibiarkan dia sebagai anak gugur, yang pada waktu keluar dari kandungan ibunya sudah setengah busuk dagingnya."
13 Lalu berserulah Musa kepada TUHAN: "Ya Allah, sembuhkanlah kiranya dia."
14 Kemudian berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Sekiranya ayahnya meludahi mukanya, tidakkah ia mendapat malu selama tujuh hari? Biarlah dia selama tujuh hari dikucilkan ke luar tempat perkemahan, kemudian bolehlah ia diterima kembali."
15 Jadi dikucilkanlah Miryam ke luar tempat perkemahan tujuh hari lamanya, dan bangsa itu tidak berangkat sebelum Miryam diterima kembali.
16 Kemudian berangkatlah mereka dari Hazerot dan berkemah di padang gurun Paran.

Bukan main! Betapa Tuhan sangat melindungi Musa. Ketika ada pemberontakan yang dilakukan oleh Korah, Datan dan Abiram, Tuhan membela Musa (Bilangan 16:1-35). Musa juga menjadi pembela bangsanya di hadapan Tuhan. Beberapa kali Tuhan tidak jadi memusnahkan bangsa Israel karena Musa berdiri sebagai pendoa syafaat bagi bangsanya. Sepuluh tulah terjadi di Mesir lewat Musa. Laut Teberau terbelah ketika Musa mengangkat tongkatnya. Rasanya, tidak ada doa Musa yang tidak dijawab Tuhan.

Seperti Musa yang dikenal TUHAN dengan berhadapan muka, tidak ada lagi nabi yang bangkit di antara orang Israel, dalam hal segala tanda dan mujizat, yang dilakukannya atas perintah TUHAN di tanah Mesir terhadap Firaun dan terhadap semua pegawainya dan seluruh negerinya, dan dalam hal segala perbuatan kekuasaan dan segala kedahsyatan yang besar yang dilakukan Musa di depan seluruh orang Israel - Ulangan 34:10-12

Ketika Musa meninggal dalam usia 120 tahun, kekuatannya belum hilang dan matanya belum kabur. Ia naik sendirian ke Gunung Nebo, melihat negeri perjanjian itu dan kemudian meninggal. Alkitab mencatat, Tuhan sendiri yang menguburkan Musa.

Lalu matilah Musa, hamba TUHAN itu, di sana di tanah Moab, sesuai dengan firman TUHAN. Dan dikuburkan-Nyalah dia di suatu lembah di tanah Moab, di tentangan Bet-Peor, dan tidak ada orang yang tahu kuburnya sampai hari ini - Ulangan 34:5,6

Pernahkah anda bertemu dengan seorang hamba Tuhan dengan reputasi seperti Musa? Sangat fantastis! Namun demikian, ternyata ada satu permintaan Musa yang tidak dikabulkan Tuhan. Permintaan ini bukan permintaan yang jelek atau jahat, justru permintaan yang baik. Apa itu? Musa meminta supaya ia boleh masuk ke tanah perjanjian. Tetapi karena ia pernah melanggar kekudusan Tuhan, ia tidak diijinkan masuk ke tanah perjanjian.

Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun: "Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka." - Keluaran 20:12

Akan hal ini, Musa bukannya tidak pernah "bernegosiasi" dengan Tuhan. Ia pernah "membujuk" Tuhan supaya ia diijinkan masuk ke tanah perjanjian.

"Juga pada waktu itu aku mohon kasih karunia dari pada TUHAN, demikian: Ya, Tuhan ALLAH, Engkau telah mulai memperlihatkan kepada hamba-Mu ini kebesaran-Mu dan tangan-Mu yang kuat; sebab allah manakah di langit dan di bumi, yang dapat melakukan perbuatan perkasa seperti Engkau? Biarlah aku menyeberang dan melihat negeri yang baik yang di seberang sungai Yordan, tanah pegunungan yang baik itu, dan gunung Libanon. Tetapi TUHAN murka terhadap aku oleh karena kamu dan tidaklah mendengarkan permohonanku. TUHAN berfirman kepadaku: Cukup! Jangan lagi bicarakan perkara itu dengan Aku. Naiklah ke puncak gunung Pisga dan layangkanlah pandangmu ke barat, ke utara, ke selatan dan ke timur dan lihatlah baik-baik, sebab sungai Yordan ini tidak akan kauseberangi. - Ulangan 3:23-27

Bisakah anda membayangkan, bahwa ada seorang pendoa syafaat yang sangat dekat dengan Tuhan; seorang leader yang diurapi Tuhan; seorang nabi yang pernah berdoa untuk pengampunan atas bangsanya dengan kalimat "...kiranya Engkau mengampuni dosa mereka itu -- dan jika tidak, hapuskanlah kiranya namaku dari dalam kitab yang telah Kautulis." - Keluaran 32:32; seorang intercessor yang mempertaruhkan masa kekekalannya bersama Tuhan demi pengampunan atas bangsanya; seorang yang intim dengan Tuhan, tetapi kemudian ada permintaannya yang "sederhana" yang ditolak Tuhan? Amazing!


Tetapi yang membuat saya kagum adalah sikap hati Musa yang tetap nurut. Musa tidak protes, tidak doa puasa untuk mengubah keputusan Tuhan. Ia tetap menerima keputusan Tuhan itu. Dan lama setelah itu, ketika Tuhan Yesus dimuliakan di atas gunung, tampaklah dua orang yang bercakap-cakap dengan Dia.

Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendiri saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia. - Matius 17:1-3


Mengapa kedua orang ini muncul dan bercakap-cakap dengan Tuhan Yesus? Saya percaya mereka mempunyai status rohani yang istimewa di hadapan Tuhan. Elia tidak mengalami kematian karena langsung diangkat hidup-hidup ke sorga. Musa memang mati, tetapi tidak ada yang tahu di mana kuburnya, sebab Tuhan yang menguburkan Musa.

Musa tidak mendapatkan apa yang ia rindukan, yaitu masuk ke tanah perjanjian, tetapi ia memperoleh status rohani yang istimewa di hadapan Tuhan karena sikap hatinya yang nurut.

Betapa penting kita memiliki hati yang penurut di hadapan Tuhan sekalipun untuk itu kita mungkin tidak memperoleh apa yang menurut kita baik dan rohani. Ada orang-orang yang punya kerinduan untuk melayani Tuhan sepenuh waktu dan itu sangat baik, tetapi kemudian mengerti bahwa Tuhan menghendaki hal yang lain bagi hidupnya. Sebaliknya, ada orang-orang yang memang Tuhan panggil untuk melayaniNya sepenuh waktu, tetapi mereka sendiri ingin bekerja seperti orang-orang lain.

Biarlah kita belajar dari Musa yang punya sikap hati yang nurut pada kehendak Tuhan, Amin!

Jumat, 16 Januari 2009

Nuh, Daniel, Ayub

"Hai anak manusia, kalau sesuatu negeri berdosa kepada-Ku dengan berobah setia dan Aku mengacungkan tangan-Ku melawannya dengan memusnahkan persediaan makanannya dan mendatangkan kelaparan atasnya dan melenyapkan dari negeri itu manusia dan binatang, biarpun di tengah-tengahnya berada ketiga orang ini, yaitu Nuh, Daniel dan Ayub, mereka akan menyelamatkan hanya nyawanya sendiri karena kebenaran mereka, demikianlah firman Tuhan ALLAH. (Yehezkiel 14:13,14)

Nuh, Daniel, dan Ayub adalah contoh orang-orang yang istimewa di hadapan Tuhan. Mereka didapati hidup dengan benar, saleh, jujur, bahkan dikatakan tidak bercela. Jika suatu daerah mengalami musibah, maka mereka akan diselamatkan. Yang menarik, mereka punya status yang berbeda di hadapan manusia, tetapi sama-sama dikasihi Tuhan.

1. Nuh - Pemberita Kebenaran - The Preacher
II Petrus 2:5 mengatakan Nuh adalah pemberita kebenaran atau preacher (= pengkotbah). Nuh mewakili para hamba Tuhan, yaitu mereka yang mendedikasikan hidupnya untuk memberitakan Injil. Nuh mewakili fulltimers, mereka yang melayani Tuhan sepenuh waktu. Ada banyak hamba Tuhan, para fulltimer, tetapi berapa orang yang hidup seperti Nuh, yang “bergaul dengan Allah”? (Kejadian 6:9). Dalam terjemahan KJV dikatakan Nuh itu walked with God, berjalan hand in hand with God. Artinya ia selalu bercakap-cakap dengan Tuhan, mendiskusikan his daily affairs dengan Tuhan. Pada akhirnya Tuhan berkata kepada Nuh, “… Masuklah ke dalam bahtera itu, engkau dan seisi rumahmu, sebab engkaulah yang Kulihat benar di hadapan-Ku di antara orang zaman ini.” (Kejadian 7:1). Nuh adalah seorang hamba Tuhan yang hidup bergaul erat dengan Tuhan dan kemudian menyelamatkan seluruh isi rumah tangganya.
Apakah anda seorang fulltimer? Apakah anda juga seorang fulltimer yang walk hand in hand with God?

2. Daniel - Karyawan - Employee
Bagaimana dengan Daniel? Daniel adalah karyawan, orang yang bekerja di kantor setiap hari. Daniel mewakili para buruh yang bekerja pada pemerintah atau perusahaan swasta atau instansi tertentu. Daniel adalah gambaran sebagian besar di antara kita yang setiap hari Senin sampai Jumat atau Sabtu, pagi sampai sore, harus bekerja. Kalau Daniel hidup pada masa kini di Jakarta, maka ia harus berangkat pagi-pagi, melalui semua kemacetan untuk sampai di kantornya. Ia harus mengisi daftar hadir, tidak boleh terlambat, pulang kantor jam lima atau setengah enam sore dan mungkin baru tiba di rumah jam delapan malam. Dalam setahun ia hanya boleh cuti 12 hari kerja. Yang luar biasa, ternyata Daniel setia dalam setiap bagian tugasnya sehingga tidak ada kelalaian yang didapati pada pekerjaannya (Daniel 6:5). Tidak hanya itu, Daniel juga memelihara jam-jam ibadahnya. Ia tetap berpuasa, berdoa, memuji dan menyembah Tuhan seperti yang biasa dilakukannya (Daniel 6:11). Dan yang menarik, Gabriel, sang malaikat berkata, “….engkau sangat dikasihi.” (Daniel 9:23). Daniel bukan seorang fulltimer, tetapi ia sangat dikasihi Tuhan. Doanya didengar oleh Tuhan. Dulu, saya kira kalau saya mau intim dengan Tuhan, maka saya harus fulltime. Tetapi Tuhan menunjukkan bahwa ada orang-orang yang bekerja seperti Daniel tetapi intim dengan Tuhan dan sangat dikasihi Tuhan.

3. Ayub - Pengusaha - Business Owner
Orang ketiga adalah Ayub, yang mewakili para pengusaha, business owner, yang sangat kaya. Kalau kita mempertanyakan apakah orang kaya bisa hidup berkenan kepada Tuhan dan masuk sorga, maka Ayub adalah salah satu contohnya.

“Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub; orang itu saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan….. orang itu adalah yang terkaya dari semua orang di sebelah timur.” (Ayub 1:1-3).

Ayub bukan fulltimer, Ayub bukan seorang pendeta, bukan seorang gembala sidang. Ia cuma seorang pengusaha yang takut akan Tuhan. Ia hidup jujur, benar dan menjauhi kejahatan. Reputasinya luar biasa sehingga Tuhan sendiri yang memujinya di hadapan iblis.

Lalu bertanyalah TUHAN kepada Iblis: "Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorang pun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan." (Ayub 1:8)

Dari ketiga orang ini kita bisa belajar bahwa masing-masing mempunyai panggilan dan tugas yang berbeda dari Tuhan. Kita tidak bisa berkata bahwa seorang fulltimer lebih dikasihi Tuhan daripada seorang karyawan atau pengusaha. Apapun profesi kita di dunia ini, kalau kita hidup bergaul dengan Tuhan, kita bisa menyenangkan Dia. Biarlah kita senantiasa didapati setia sedang mengerjakan tugas yang Dia percayakan kepada kita. Amin!